Tuesday, October 9, 2007

An Open Invitation

I’m about to do something that was unthinkable for me before.

Never in my life I’ve thought of writing a diaryish blog. Diaryish blog for me is like, well, how it exactly sounds: diarrhea-ish. Dan blog seperti itulah yang membanjiri rimba cyber tak bertepi ini. Not everybody has the most interesting thing to say, mostly they just don’t. Sorry. I don’t claim myself to be interesting as well, and that is why I’ve never had any of those diaryish blogs. Plus, they require time luxury, which I apparently don’t have.

Kebanyakan diaryish blog adalah perwujudan dari sindrom diare kata-kata. Encer. Kurang makna. Kurang guna. Bau. Cuma bikin sakit perut. But I am not here to entertain anybody. I am not here to amuse anyone’s mind. I am here to challenge myself. In fact, this is a suicidal project. And I do long to die. A death that shall result in rebirth. Born anew.

The old Dewi believes that a good novel should take years to produce. The old Dewi believes that she’s a slow writer. The old Dewi believes that an ideal time span for a book production is one and a half year, two years at max. Well, that old Dewi needs to die.

At this point, you probably wonder what that fuss is all about. Fair enough. Let me share with you the story behind this invitation:

Ada beberapa monumen penulisan yang begitu menggugah dan berperan besar dalam proses saya menjadi seorang penulis. Salah satunya adalah membaca cerita bersambung di majalah HAI berjudul “Ke Gunung Lagi” karya Katyusha. Saya masih SD saat itu. Segala sesuatu yang dihadirkan lewat cerbung itu memikat saya. Cerita cinta yang riil, apik, penataan emosi yang pas dan tidak berlebihan, serta format bersambung yang membuat saya penasaran, tenggelam, kecanduan, dan ingin segera baca lagi, dan lagi.

Format bersambung itu, sekaligus mutu dari cerita itu sendiri, membuat tokoh-tokoh dalam cerbung Katyusha begitu hidup, dan membuat saya memiliki jalinan personal dengan mereka. Seolah mereka ada dalam hidup saya, dan kami saling mengenal. Dan demikianlah seharusnya dampak yang dihasilkan oleh sebuah cerita yang bagus dan berhasil.

Monumen serupa saya dapatkan lagi dalam beberapa komik Jepang yang saya baca, antara lain: Candy-candy, Topeng Kaca, dan Pop Corn. Lagi-lagi, format bersambung. Saya ingat bagaimana saya lupa makan, lupa bersosialisasi, lupa belajar, demi menyelesaikan halaman per halaman, menyambar buku demi buku seperti orang sakaw. Saya ingat bagaimana saya menangis terisak-isak ketika membaca Candy-candy buku ke-7, dan bagaimana saya termenung lama berhari-hari ketika tokoh pendaki gunung di Pop Corn, Okita Naritoshi, mati dalam pendakiannya.

Dan saya menyadari satu hal, saya belum menemukan lagi format cerita bersambung yang mampu memikat saya begitu dalam. Mungkin karena tren majalah sekarang sudah berubah. Tapi saya berpikir, daripada menunggu orang lain menulis, kenapa tidak saya membuat sendiri saja?

Saya memulai cerita bersambung ini sejak tahun 1996. Tanpa target apa-apa selain memikat diri sendiri. Memenuhi rasa haus saya akan cerita bersambung yang mampu menjerat dan mengikat pembacanya. Setelah dua tahun menulis, karya itu pun terbengkalai dengan kondisi 80% jadi. Bensin saya habis. Meski saya sudah tahu bagaimana cerita itu akan berakhir. Meski saya tahu, dan juga orang-orang yang pernah membacanya, bahwa ini adalah salah satu cerita cinta terindah yang pernah saya tulis.

Sebelas tahun cerita ini menggantungi rahim benak saya seperti bayi tua di dalam perut. Saya berutang kehidupan pada bayi tua ini, yang karena satu dan lain hal, tak pernah merasakan hidup di alam realitas, melainkan dikurung di alam fiksi dalam keadaan tiga perempat jadi.

Sebelas tahun berlalu, dan akhirnya saya menemukan celah baru. Bensin baru. Sebuah tawaran datang pada saya dari satu perusahaan content provider. Mereka menawarkan agar buku-buku saya dibuat dalam versi WAP, yang kemudian bisa di-download lewat ponsel. Mereka sudah pernah mencoba dengan karya Kho Ping Hoo, dan hasilnya cukup memuaskan. Dalam meeting di Spice Garden – Plaza Senayan siang itu, mendadak bayi tua dalam rahim benak saya menendang sekali lagi, setelah entah berapa kali ia menendang-nendang tanpa hasil. Saya lalu menawarkan pada mereka, justru bukan buku saya yang sudah pernah dipublikasi, melainkan buku yang BELUM pernah dipublikasi. Sebuah cerita dengan format bersambung versi abad 21. Tidak lagi di majalah, melainkan di layar ponsel.

Mereka menyukai ide itu. Saya pun demikian. Filosofi Kopi dan seri Supernova hanya tinggal memanjangkan sayap saja jika dikonversi ke dalam versi digital, tapi bagi cerita yang satu ini, itu adalah kelahiran.

Beberapa hari kemudian, mereka mengirimkan draft kontrak, dengan catatan tambahan: sudah ada beberapa perusahaan telekomunikasi yang berminat. Saya pun makin tersadar, proyek ini makin sungguhan.

Maka pergilah saya mengunjungi cerita yang sudah sebelas tahun mati suri. Dulu judulnya “Kugy & Keenan”, di tengah jalan saya mengubahnya menjadi “Perahu Kertas”. Saya tidak tahu dia akan berakhir dengan judul apa. Namun saya bertekad untuk menyelesaikannya. Saya bertekad untuk menjemputnya dari alam fiksi dan membawanya ke alam realitas dalam keadaan utuh dan sehat.

Saya tahu proyek penjemputan kali ini tidak mudah. I mean, admit it, your 11-years-old manuscript will not be pretty. It will be damn ugly. You’ll be rolling down the floor laughing at your metaphors, your choice of words, your dialogues. Blah. Blah. Blah. Yuck. Yuck. Yuck.

But I tell you what I have. I have a good story. A lively plot. Believable and lovable characters. I believe I have all the right ingredients. They just need a whole new kitchen. And they have my faith—a hundred and ten percent. Right under those piles of stupid metaphors, ugly wordings, corny scenes, there lies my most precious gem. I just have to dig harder. Or, in a more realistic languange: I just have to rewrite from zero.

I tell you what else I have with me. I have an e-book in PDF format, a gift from a dear friend who’s also struggling to write his first book. This e-book is written by Steve Manning, a writing coach, who created a ‘machine’ that shall enable us to write ANYTHING in 14 days. I also have a book that just arrived from Amazon.com, written by Chris Baty, founder of National Novel Writing Month. It was a guide to writing a novel in 30 days. I read both Manning’s and Baty’s works. I also know real, live people who can actually write quite fast. 55,000 words in 30 days are plausible. 35 chapters in 14 days are plausible. I must say, with all my experience as a published writer, both methods are possible. Those methods may not help us to create the best story in history, but they help us to get something. Bagus atau tidak sebuah cerita, akan selalu kembali kepada bahan mentah dan kepiawaian sang penulis meramu. The only remaining question is, will I dare to try? Will I dare to make it happen?

I’ve written four books now. Three novels and an anthology. Pengalaman menulis buku adalah pengalaman yang amat nyata bagi saya. I know all the aches of writing, from soul ache to back ache. I also know the bliss and ecstasy of writing, the power of creating something out of nothing, the unequivocal feeling of giving a creative birth. But 30 days, or even 60 days, or even any time limit below four months, is a whole different deal. In my heart, I refuse to do any of my work in such a short time constraint. I just don’t think it’s a ‘right’ thing to do.

So, I tell you my last and best secret weapon: a deadline. Not only I’m willing to try to finish it under 60 days, but I’m willing to make this process an open kitchen to everybody. I will not be the only one who set up and count the days to deadline, but you all may have a share in that process.

Isn’t it a perfect suicide? Nope. It is PURRRFECT. This is not just a deadline, this is a SO-DEADline. And doesn’t one need to die first to cross the deadman’s realm? For such a special tour, I cannot allow this book to travel alone. It shall be accompanied by a journal. A journal of faith and fate.

You shall see how I fumble, fail, and frustrate. You may also see how I thrive, excel, and succeed. For you gossipheads, this journal may be disappointing. It will not reveal much about my life’s drama, but it will be a close-up tour to a creative journey. You decide which one is more intimate. Heheh.

Jika dibukukan, cerita bersambung ini akan menjadi roman. Novel yang panjang. Lebih panjang dari Supernova. So, I’m not writing 50.000 words, I’ll be at least writing 70.000 or more. Dan satuan yang akan saya lebih sering pakai adalah jumlah halaman. Satu bab akan terdiri dari empat halaman, dalam format spasi satu dan font ukuran 10. Dalam 55 hari, saya akan menulis sekurangnya 40 bab. Saya akan melaporkan setiap perkembangan yang terjadi dalam 55 hari sejak proyek ini resmi dimulai.

Ada dua pertanyaan. Kenapa 55 hari? Dan kapan proyek ini resmi menghitung hari? Dalam buku Angel Numbers karya Doreen Virtue, 55 berarti: transformasi, metamorfosa. Bagi saya, ungkapan itu tepat untuk proyek ini. 55 hari juga menjadi jumlah yang masuk akal untuk kuota kata yang harus saya penuhi.

Proyek ini akan resmi dimulai saat saya menemukan apa yang disebut Chris Baty sebagai “Novel’s Headquarter”. Satu tempat, bukan di rumah, yang menjadi sasana bagi saya bertarung melawan halaman kosong. Dan memang demikianlah esensi pekerjaan menulis ini, sungguh. Ketika kita menyeberangkan ide kita dari alam fiksi menuju alam realitas, setiap kata yang kita produksi menjadi balok demi balok dari jembatan yang kita seberangi. Penyeberangan dari halaman kosong menuju halaman bercerita. By the time I find my novel’s headquarter, the timer starts.

One notable thing though, this WAP-book deal may happen, or may not happen. This book may be out there physically, or may not. We never know. But I will pay these eleven years debt, and I will get my story across from the fiction realm to… your realm. Our realm.

This journal, however, shall cover the pre-production period and perhaps the post-production period as well (if I don’t suddenly get lazy). Since this is a diaryish journal, and it doesn’t bend to anybody else’s rule but my own, I shall allow myself to write freely according to my mind’s nature, which is bilingual. Well, trilingual, as you shall see some of my Sundanese words pop up occasionaly.

A warning: this journal may be the most boring blog you’ll ever encounter. It may be the most nonsense, useless, and the mother of all diarrheaish blogs out there. And guess what? I DON’T CARE. Not here to entertain anybody, not here to amuse anybody. Heck, most probably we suffer together in this journey. But I welcome anybody who would like to observe, witness, either silently or not so silently. This is a true naked kitchen.

Welcome.

~ D ~

15 comments:

  1. i'll always be here, keep the 'baby' warm, until kelahirannya nanti..

    ReplyDelete
  2. Interesting...will stay to watch..

    ReplyDelete
  3. yeah, go go go.. (with power rangers theme song in the background)

    btw, supernova-nya pa kabar mbak? masih penasaran nih ma kelanjutan bodhi n elektra.. hiks.. :(

    ReplyDelete
  4. Thanks to all for your support.
    Easy, HZ, Supernova pasti akan berlanjut. Rencana Partikel akan dilansir tahun 2008. Barangkali akan ada proyek 55 hari berikutnya untuk penulisan Partikel :)

    ReplyDelete
  5. Asiik, akhirnya dapet kepastian klo Supernova bakal berlanjut :D

    Cheers.. ;)

    ReplyDelete
  6. akhirnya ada alasan lagi untuk buka blogspot.. huahaha..

    ReplyDelete
  7. Sebagai fans sejati, diriku ada disini untuk menghitung hari.

    Yak, mulai!

    Cepetaannn.. CEPAAATTTT!!!

    *berlebihan*

    ReplyDelete
  8. Thanks Mbak.

    Saya juga termasuk yang menghitung hari buat novelnya Mbak Dewi :). Sukses!!

    ReplyDelete
  9. Halo, nama saya Audi.
    Ikutan ngobrol ya =)
    Anda pemberani sekali..to make it an open process. Dan untuk menantang diri dalam 55 hari.
    Hope it will be 'something'. If not the novel, I guess it still will be a great process (sama sekali tidak bermaksud pesimis!)

    ReplyDelete
  10. Berapa halaman sih "standarnya" yang HARUS ditulis dalam sehari?
    Lagi nyoba bikin juga nih but man, am I lazy :D
    Thanx

    ReplyDelete
  11. I started to write my first words in a blog about 3 years ago. It was the end of 2004. The blog was called "sous-main" and my nick was "twisted-ophelia".

    One fine day, a friend of mine who was probably also a fan of sous main asked a permission to print some of notable writings in it. He told me that he intend to give it to Dewi Lestari a.k.a Dee, a writer who always fail to not amaze me.

    I said OK, but with a condition : the pinted version is restricted to Dee. Dee and Dee only.

    And so he did give it to her.

    Months later, he said something like this : "I did give your writings to Dee, but I'm sorry she said nothing".

    "That's OK", said I. For I never expected anything to happen from his action.

    To my surprise I found this :

    Never in my life I’ve thought of writing a diaryish blog. Diaryish blog for me is like, well, how it exactly sounds: diarrhea-ish. Dan blog seperti itulah yang membanjiri rimba cyber tak bertepi ini. Not everybody has the most interesting thing to say, mostly they just don’t. Sorry. I don’t claim myself to be interesting as well, and that is why I’ve never had any of those diaryish blogs. Plus, they require time luxury, which I apparently don’t have.

    Kebanyakan diaryish blog adalah perwujudan dari sindrom diare kata-kata. Encer. Kurang makna. Kurang guna. Bau. Cuma bikin sakit perut.

    Ouch... Right thru the very heart of mine..

    I can't help but be hurt.

    I like her less now. But I'm know I will get better and most probably will buy Perahu Kertas this October.

    ReplyDelete
  12. mbak dee, i expected more of you than 'diarrhea-ish'. especially, i recall that one day i gave you a friend's draft from her diary blog. i guess this is why you didn't reply any of my message, huh ? wow. i'm sorry for expecting more.

    ReplyDelete
  13. nggg correction.. that was NOT a diary blog at all. that was something i built as a place for writing exercise. well, whatever.. no hard feeling :)

    ReplyDelete
  14. baru baca blog ini :)

    topeng kaca, popcorn...komik jepang yang saya suka banget dari dulu..dan masih jadi koleksi saya sampai sekarang.

    Perahu Kertas udah tamat saya baca....buku Dee yg lain yang membuat saya jatuh cinta ke dalam dunianya... :)

    dan saya tetap menunggu datangnya Partikel...sungguh...can't hardly wait :D

    ReplyDelete