Wednesday, November 28, 2007

Pausing The Timer (3)

Hari ini kembali lagi ke Colloseum, untuk take backing vocal. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir rekaman di Jakarta. Jika ada penambahan lagi, dan kemungkinan hanya untuk backing vocal saja, kita ingin mencoba rekaman di Bandung.

The shift will start at 5 pm. Saya akan berangkat ke Jakarta after lunch, dan langsung pulang lagi nanti malam. Besok tour RSD sudah kembali menanti. Aktivitas super padat ini lama-lama rasanya seperti cosmic joke. It’s so tiring it becomes so funny. Hahaha!

Day 30 – Torn Between Slankers and Viking

Another tour, kali ini kota yang dituju adalah Majalengka. There’s only one hotel in this town, dan fully booked karena ada rombongan haji. Akhirnya kami hanya transit sejenak di rumah pemilik radio yang menjadi sponsor acara.

I didn’t remember when was the last time I came across that kind of audience, barangkali ini pengalaman pertama kami. Begitu kami naik, penonton yang kebanyakan pria sudah merangsak maju ke panggung. Penonton yang duduk di belakang sepertinya tak akan melihat apa-apa, karena mereka yang di depan ini ogah duduk. Banyak yang bahkan duduk di atas pundak temannya sambil mengacungkan tangan. Mata mereka kebanyakan menggantung setengah, berteriak dan berjoget—bahkan ketika tidak ada musik. Beberapa ada yang menggelar spanduk Persib. Lagu Slank yang dibawakan oleh band sebelum kami membuat mereka semua berteriak orgasmik. I just knew it… we’re in a totally wrong crowd.

Sita masih sempat berusaha merebut hati mereka dengan meneriakkan “Hidup Persib” dan “Semoga Persib tidak keluar dari empat besar”. Saya sudah mau mati menahan ketawa. Namun lewat dari dua lagu, she gave up. We all gave up. They’re not our crowd. And we’re not their type of entertainers. Period. Hal itu dikonfirmasi ketika mereka tetap joget bahkan saat kami menyanyikan lagu “Kepadamu” yang slow dan mendayu-dayu itu. So, it was obvious, it wasn’t our song they loved, they just needed the drum beats.

Rida memutuskan di atas panggung untuk mengurangi lagu, dan sungguh keputusan yang bijak. Di pertengahan lagu terakhir, massa itu buyar mendadak karena terjadi perkelahian di luar. And of course, the fight was way much more interesting than our music. Seperempat lagu terakhir barulah kami melihat penonton yang duduk di belakang, yang memang datang untuk menonton RSD, dan terpaksa hanya menontoni punggung-punggung selama 6 lagu. Poor them. Poor us.

Heading back to Bandung at 10.30. It was some experience, all right.

Tuesday, November 27, 2007

Pausing The Timer (2)

Dua hari berikut, tanggal 26 dan 27 November, kembali menjadi hari produksinya Rectoverso. Kembali saya masuk studio untuk merekam vokal dua lagu terakhir yang merupakan nomor duet. Hari pertama, saya akan berduet dengan adik saya sendiri, Arina “Mocca”. Hari kedua, teman duet saya adalah Ridzky (dulu vokalis band bernama Tiket).

This shall be my first duet recording experience. Sounds fun. Dengan penata vokal, yang juga adalah teman saya dari SD, Irvan Nat, kami rekaman di studio Colloseum—studio yang juga dimiliki oleh sahabat lama saya, Baron (ex gitaris GIGI). You know, this is what I love the most about Rectoverso production. It’s a perfect combination between talents, professionalism, and friendship. I feel like I’m in a web of old familiar friends. Bahkan yang sepertinya baru kenal sekalipun ternyata sesungguhnya tidak terlalu ‘asing’. Contoh kasus: sekalipun saya baru kenal dengan Ridzky, tapi ternyata Ridzky sudah berteman lama dengan Irvan, dengan Baron, bahkan adiknya Ridzky—Rishanda—adalah pemain bass untuk semua lagu di Rectoverso.

Dari mulai eksekutif produser, produser, penata musik, penata vokal, pemain, bahkan kru… semuanya memiliki keterhubungan yang dekat dengan hidup saya dari berbagai era. This is such a blessed project. At least for me, I’m so happy to be in it, and to be with all of them. Can’t wait to share it with all of you.

Day 27-29 - A Short Holiday

Day 29:

Pulang ke Bandung. Kami merencanakan pulang via Garut dan makan siang di sana. Ada sebuah tempat makan yang mengusik rasa penasaran saya, dan saya putuskan untuk mengecek kembali tempat yang kemarin terlewat ini. Namanya “Mulih Ka Desa”, sebuah restoran dan hotel di tengah sawah. Nice place. It’s like West Java’s version of Ubud.

Sampai di Bandung, langsung dihadang rapat serius dengan teman-teman dari Penerbit Truedee. Untungnya, rapat diadakan di rumah saya, so I didn’t have to spend another trip on the road. Enough with these three days. Kami membicarakan rencana kerja sebulan ke depan. Dan tentu saja, “Perahu Kertas” juga disinggung.

You know what? If my speed is constantly a chapter a day, I have to work pretty soon.


Day 28:

Meneruskan tema piknik dengan berkunjung ke Kawah Papandayan sehabis sarapan pagi. The view was unbelievable. Tapi perjalanan menuju kawah terasa sangat sepi, tidak ada mobil yang berpapasan. Sesampainya di atas, baru kami tahu kenapa. Meletusnya kembali Papandayan tahun 2002 telah menghancurkan jalan aspal yang tadinya bisa membawa orang-orang langsung ke dekat kawah. Sekarang kami harus trekking di jalan berbatu yang lumayan parah untuk bisa sampai ke sana. And I was with Keenan, so I thought I had to skip. But that little boy managed to walk for a hundred meters or so, di atas jalan berbatu dan menanjak, dengan sendalnya yang sedikit kebesaran.

Sekitar jam 12 kami turun ke bawah, langsung menuju Sweet Water, alias Ciamis. Didn’t go out much in Ciamis, just took a long nap. The show tonight was okay, too. Although Ciamis audience was more challenging than Garut. Lebih cool dan pelit tepuk tangan. Keenan juga protes ingin ikut pergi dan baru dibawa pulang ke hotel lagi setelah lagu kedua. Sponsored by a cigarette company, you can imagine the dense tobacco air wherever you go. Not an ideal place for a child.

As usual, the show ended at around 11. The rest of the group went back to Bandung tonight. I decided to stay over.


Day 27:


Mental saya mengondisikan bahwa perjalanan berikut ini adalah liburan. I’ve always loved Garut. Been there once when I was in my junior high, and it left a deep impression in me. Bertahun-tahun kemudian, saya bahkan sampai membuat cerbung yang sebagian besar mengambil lokasi di Garut (proyek cerbung pertama saya sebelum “Perahu Kertas”).

The view was still breathtaking. Something about the rice fields and mountains, they always manage to move me. Sedari kecil saya mendamba punya kampung halaman yang bisa dikunjungi ketika liburan, persis seperti cerita-cerita standar buku teks SD. And I found refuge in my friends’ grandparents. I had my first ‘berlibur ke rumah nenek’ adventure when I was in 6th grade, and I got addicted ever since. Dan jika ditelaah lagi dari selera makanan, pola perilaku, minat tema cerita, dsb, one can easily detect the eternal ‘anak kampung’ within me.

Sempat berjalan-jalan ke pusat kota Garut bersama Rida dan Sita, makan sop buah dan tahu goreng. Di tengah jalan, saya minta berhenti. I took Keenan for a delman ride. He was ecstatic, and so was I. Baru berasa ada di Garut. Persis di depan Universitas Garut—tempat kami manggung malam ini, there was a heavenly spot. Ada sebuah lengkungan jalan dengan pemandangan sawah membentang dan gunung Papandayan yang menjulang raksasa, dan di lengkungan itu terdapat satu pohon besar dengan bunga oranye bermekaran. Di tengah-tengah pemandangan serba hijau, pohon berbunga oranye itu mencuat sendirian, menyala seperti kebakaran. It was beautiful.

The show tonight was quite good. Banyak penggemar lama RSD yang datang, duduk mendengarkan sambil mulutnya komat-kamit ikut bersenandung. And we still had those fresh mango juices in our waiting room. Yummy.

Thursday, November 22, 2007

Day 26 – An Epiphany

Obrolan saya dengan Butet Kartaredjasa beberapa hari yang lalu memberikan saya pencerahan kecil tentang apa yang terjadi dengan saya sekarang ini.

Sewaktu syuting kemarin ini, kami berdua sempat mengobrol soal kegiatan Mas Butet yang baru saja kelar mementaskan sebuah monolog. Saya bertanya tentang cara dia mempersiapkan diri, dsb. Lalu Mas Butet menambahkan satu poin yang menjadi pencerahan bagi saya, beliau bilang: “Salah satu hal yang paling sukar dari pementasan adalah masa sesudahnya. Bukan hanya persiapannya. Memadamkan adrenalin dan cengkeraman kita pada pementasan itulah yang butuh waktu panjang. Saya pasti susah tidur berhari-hari. Dan saya biasanya hanya mau pementasan paling banyak setahun sekali.”

And I thought… that’s exactly it! That’s what I’ve been experiencing, and I still am. Dan saya terpukau sendiri, kok bisa-bisanya saya meluputkan satu faktor penting ini. Setelah berkarya empat buku, I knew exactly how that felt. Tapi masalahnya belum pernah saya diimpit multi-deadline sekaligus, jadi situasi ini terbilang baru. Namun saya dengan naifnya sempat bingung, kok saya nggak bisa nulis, ya? No matter how I pushed it, nothing came out. And I thought I was just making excuses for myself.

Ibarat orang baru melahirkan, selalu terjadi luka yang butuh waktu penyembuhan. I have experienced both physical birth and creative birth. And for some time after those births, I remember of living a limbo-esque period. Rasanya kayak nggak di sana, nggak di sini. My mental still clenched and grabbed onto my old project—yang bahkan belum berakhir karena tanggal 25-27 Nov ini saya masih harus rekaman lagi. But my logical mind told me to go on with the timer. And so here I am.

Tell you the truth, I really dunno when this ‘wound’ heals. It may take days, or weeks. Dan dengan timer yang sudah telanjur saya nyalakan kembali tanpa memikirkan faktor ‘luka’ pasca-produksi, I really dunno if I can make it. But I am less worried about it. Thanks to the enlightening conversation I had with Mas Butet.

Besok akan kembali menyusuri Jawa Barat bersama Rida dan Sita sampai hari Minggu. Saya putuskan untuk membawa Keenan serta agar kami bisa liburan sejenak memandangi gunung dan sawah.

Domba Garut… here we come!

Tuesday, November 20, 2007

Day 23-25 - The Mid Crisis


Day 25 – The Mid Crisis


A friend of mine told me, after those intense days I had with Rectoverso, I do deserve a few days break. So far, his words were proven to be true. No matter how I pushed my system, no words poured out. I just couldn’t bring myself to write.

But as the days go by, I start to worry. Will I write? Of course I will. Will I finish this project on time? I dunno, but heck, I’ll make sure I will. When I will I start writing again then? I dunno. I totally dunno. One of these days I hope.

Hari ini ada shooting untuk acara internal PT Djarum. Kembali ke Jakarta. Dengan rangkaian kegiatan yang bertubi-tubi ini, I’m still very tired. Rasanya ingin unplug dari dunia persilatan ini sejenak. Unplug—dalam arti melepaskan pikiran dan segala faktor mental dari badan, lalu membiarkan si badan beristirahat total. Ada nama singkat untuk itu: mati suri. Saya sering berkhayal andaikan mati suri itu bisa diprogram. Datang ke sebuah institusi lalu bilang, “Pak/Bu, saya mau ambil paket mati suri 3 hari 2 malam. Single bed saja, kamar standard.”

Kini jam menunjukkan pukul 12 siang, perut baru diisi gado-gado, semalam kurang tidur, jadi sekarang ngantuknya minta ampun. I’m sitting on a very comfy bed, and, oh boy, do I want to doze off and leave the world behind. But I’m wearing this heavy make up on my face and I don’t want to smear this clean sheet.

Lagu “Home” Michael Buble lewat di kepala. No. I wasn’t exactly in Paris or Rome. To be exact, I was in Jawa Barat area. The name “Cianjur” or “Garut” sounds more relevant, okay. And here I am in Jakarta, feeling the same way like Buble. Maybe surrounded by a million people, I still feel all alone, I just wanna go home. I miss you, you know. I feel like I’m living someone else’s life. Another aeroplane, another sunny place, I’m lucky I know, but I just wanna go home. Let me go home. I’m just too far from where you are. I wanna come home.

Saya membaca di buku Chris Baty bahwa kebanyakan peserta Nanowrimo (gerakan nasional menulis novel dalam sebulan yang diprakarsainya) mengalami grafik persis seperti yang saya alami sekarang: awal yang cemerlang, masa pertengahan yang berat dan penuh krisis, dan pada akhirnya semangat sekaligus wisdom dari dua fase itu bertemu dalam fase terakhir yakni penyelesaian novel. I’m not trying to make excuses for myself (well, maybe I am, a bit), but here I am, right in the middle process. And as you’ve witnessed, I’ve been rambling from mati suri to Michael Buble, just to say this point: I’m in a crisis. I’m in a deep shit and kinda enjoying it.

I wanna go home.


Day 24 – Cheap Trick

Beberapa sahabat saya dari Jakarta talk show di Bandung hari ini, dan saya bergabung menjadi tim hore mereka, alias penggembira, alias groupie. Malamnya menemani sahabat saya makan di Paris Van Java sebelum dia kembali ke Jakarta.

Keenan sudah membaik, dan demamnya sudah hilang.

Hari ini saya pakai baju biru dan putih, matching dengan sepatu biru putih, tas putih, jam putih. Call me Miss Matching of the year.

Tadi sore saya ke bank, melaksanakan transfer untuk biaya produksi Rectoverso.

Malam ini saya kekenyangan. Tahu telor yang tadi saya makan rasanya di ujung tenggorokan. I couldn’t eat too much egg anymore. Blah.

Hari ini tidak hujan seharian.

Malam sangat panas, sampai harus menyalakan AC.

— Okay, by now you probably wonder, why am I torturing you with those unelemental, unessential, unimportant details? And by now, you probably have guessed that I did all those on purpose, because… YEP! You got it! I STILL HAVEN’T WRITTEN ANYTHING YET! It’s another zero page day, everybody! —


Day 23 – Taking Care Of The Real Things

Selain kondisi Keenan yang membutuhkan perhatian penuh, juga kondisi saya yang tidak terlalu fit akibat kurang tidur, rasanya hari ini saya harus kembali menerima kenyataan bahwa tidak ada halaman baru, bahkan kata baru. I didn’t even open the files.

Namun pagi ini kembali harus ke luar untuk beberapa urusan. Salah satunya belanja makanan buat di rumah. Iseng, saya mampir ke Pasar Cihapit—the traditional market that I grew up with as a child. Boy, it was such a fun experience. I was reminiscing my childhood by eating kue pukis, buying some veggies from the vendors who had known me since I was a kid. The familiar smiles, the friendly greetings… I realized how much I loved that place. It was one of my happy places, evoking lotsa happy thoughts. I wanna come here more often.

Selepas acara belanja, I didn’t go out again. Hari ini didedikasikan untuk merawat Keenan dan tidur. Pukul 9 malam saya sudah tidak sanggup lagi menahan kantuk. Gile, kapan coba Dewi Lestari si Ratu Begadang udah tidur jam 9? Haha. This is such a rarity all right.

Sunday, November 18, 2007

Day 22 – Suatu Hari Di Bengkel Imajiner

I know. I have more than enough reasons for not having to write. Anak sakit, and he desperately needed my attention, apalagi setelah ibunya ini menghilang enam hari rekaman di Jakarta.

Pukul dua siang, saya baru berangkat dari rumah—dengan berat hati tentunya, tapi apa daya tugas menanti. Keenan ikut mengantar, dengan keadaan masih lemas dan badan hangat, tapi dia bersikeras sekeras-kerasnya ingin masuk mobil jadi terpaksa saya izinkan. Saya janjian bertemu Sita di Studio Aru di Jalan Riau. Lalu kami pergi menjemput Rida ke Cimahi. Benar-benar rute kilas balik. Beginilah agenda rutin kami zaman dulu kala. Mobil akan menjemput Sita, saya, lalu Rida.

Hari kami berangkat ke Cianjur. Tur kali ini memang tur Jawa Barat. You name it lah, dari mulai Subang sampai Cirebon. Dibilang jauh ya enggak jauh, tapi dibilang dekat, juga tidak lagi ‘terasa’ dekat karena sudah terbiasa bablas tol nonstop sampai Jakarta. Rute lewat jalan biasa ini terasa lama dan nggak sampai-sampai. But it was fun to be with the girls again, dengan topik pembicaraan klasik, celetukan khas masing-masing, dsb. Bedanya, sekarang kami bisa latihan di jalan sambil mendengarkan lagu RSD yang berkumandang lewat ponsel, kalau dulu harus putar kaset.

I brought my computer all right. But our spicy talks, the sleepiness after eating 6-7 pieces of jajanan pasar somehow inhibited me from writing. We arrived at Cianjur at around six. Dinner, preparation, make-up, blabla, and we had to go to the venue. The name of the place was BCNY. Singkatannya apa ayo? Mungkinkah Bandung-Cianjur-New York? Temukan jawabannya di paling bawah. Dan tak lupa saya selipkan foto kami, RSD versi Reuni, yang diambil sebelum naik panggung.


It was the most ‘extra-ordinary’ stage I’ve ever been on. Antara panggung dan penonton terdapat sebentang jalan tempat kendaraan keluar masuk tempat parkir. Jadi, selagi kami menyanyi, motor berseliweran, mobil melintas di depan hidung. Haha. But anyhow, it was fun. Selain posisi panggung yang luar biasa, tempat tunggu artisnya pun spektakuler. The coolest I’ve ever had. Ada semacam bar tempat minuman dan makanan disajikan, lengkap dengan ‘bartender’-nya. Menu yang ditawarkan antara lain: jus mangga segar, jus alpukat segar, dan roti bakar yang dibuat mendadak. Jadi, selain ada blender dan stok buah, ada juga oven di sana. Love it. Setelah punya pengalaman ini, makanan dus menjadi super-duper basi.

Finished at 22.30, kembali ke hotel, beres-beres, dan kembali ke Bandung jam 23.30. Rute kepulangan yang sama seperti dulu: Rida, saya, lalu Sita. On my way back, I know I shoulda write. But I was just too lazy, jalanan pun rasanya terlalu berkelok-kelok.

Di kepala saya tergambarlah sebuah adegan. Ada bengkel imajiner tempat saya membawa mesin kepenulisan saya untuk diservis. Lalu saya bertanya pada montir:

D: Pak, mesinnya nggak mau jalan.
M: (mengecek) Wah, akinya ini mah, Neng. Soak!
D: Gimana atuh?
M: Ya kudu diganti, Neng.
D: (mengecek kantong) Nggak bawa uang, Pak.
M: Ya tunggu aja sampe punya uang.
D: Tapi saya buru-buru, Pak. Dikejar deadline.
M: Ya didorong we.
D: Didorong? Sama siapa?
M: Ya sama Neng sendiri.
D: Bapak nggak bisa bantu?
M: Sibuk, Neng. Bapak juga ditunggu klien. Ada deadline ngebetulin sokbleker, bekleding sama kabilator.
D: Jadi, saya dorong sendiri, Pak?
M: Di sebelah sana ada turunan, Neng. Jalan sedikit dulu, siapa tahu mobilnya bisa ngegorolong sendiri.
D: (menelan ludah)

Mesin mati. Nol halaman. Panas Keenan 39 derajat. Tidak tidur sampai pukul tiga subuh.


* Jawaban: BCNY = Barudak Cianjur Nongkrong Yuk

Friday, November 16, 2007

Day 21 – Restarting The Engine

As promised, today will be the day to restart the timer.

Setelah enam hari intensif menenggelamkan diri dalam proyek lain, jujur, saya merasa kesulitan untuk lepas dari magnet Rectoverso dan kembali menceburkan diri dalam pusaran Perahu Kertas. Sungguh-sungguh sukar. Dalam kepala saya masih berseliweran suasana kerja di Studio Aquarius, melodi dan lirik lagu, dan segalanya yang mengingatkan saya pada semesta pikir dan rasa yang dihadirkan Rectoverso.

Ada rasa haru, bahagia, sekaligus kehilangan ketika hari-hari super intens itu berakhir. Namun perjalanan Rectoverso masih panjang. Dan tugas-tugas lain menanti. Salah satunya… ini.

Pagi tadi saya langsung dihadapkan dengan aneka pekerjaan ‘lain’, yakni berfoto untuk satu gerai es krim baru bernama Cold Stone, lalu menjadi pembicara talk show sekaligus juri perlombaan menulis KISAH yang diselenggarakan penerbit Esensi. Siang tadi di Indonesia Book Fair - JCC, ketiga pemenang diumumkan. Sesudah itu, barulah saya berkesempatan pulang ke Bandung. Rasanya tak sabar ingin menghirup udara di sana, kembali bernapas di rumah tanpa perlu angin pendingin. Kembali bertemu Keenan versi asli.

Sepanjang perjalanan saya pun sadar, seharusnya saya bisa mengetik. Tapi entah kenapa, rasanya mesin kepenulisan saya masih dingin, kunci baru dikontak, mesin baru diniatkan berjalan, tapi masih diam di tempat.

Dan ternyata oh ternyata, Keenan jatuh sakit hari ini. Saya pergi ke dokter malam-malam, pulang dalam keadaan mengantuk. Ya. Termasuk saat ini.

Besok, tur RSD dimulai. Pukul dua siang, saya sudah harus kembali meninggalkan kota ini. Untungnya pulang-pergi, tapi sepertinya saya baru bisa kembali pulang lewat tengah malam. Ya, nasib.

Saya menyadari penuh bahwa timer sudah kembali dihidupkan. Namun untuk berpikir sehari ke depan saja, badan dan otak ini rasanya sudah tidak sanggup. Sepenuhnya menikmati dan berserah dalam kantuk ini, lelah ini… [yawn]… dan nonproduktivitas ini.

Zero page.


PS. Setidaknya hari ini saya meniatkan untuk menunaikan sebuah janji, yakni menyelipkan foto Keenan Avalokita Kirana, yang sedang beraksi di atas sepeda roda empatnya dengan memakai aksesoris bermotor milik pamannya. Mohon doa agar Keenan kecil ini cepat sembuh! :)

Saturday, November 10, 2007

Pausing The Timer

Dear all,

Dengan ini saya mengumumkan berhentinya timer dari tanggal 10 - 15 November. Demi menjaga sakralitas dan fokus proyek rekaman Rectoverso (RV), I think it's fair for the RV project and also for me and everybody involved in the production, if I just paused everything else and focus on my recording session solely. Mohon doa restunya juga supaya semua berjalan lancar.

Here I am, at some warnet in Fatmawati street, just finished rehearsing with the band. If I got the chance and energy, would love to report glances of RV production in this blog as well.

Hari ini, teman-teman penerbit Truedee dari Bandung juga ikut datang ke studio, for this is gonna be our homework together -- music and book. I am excited as hell. I wish you all could feel the energy :)

All in all, thank you for your support and patience. Will get on to Perahu Kertas and 55 Days reportage after Nov 15. See y'all!

Day 20 - Quick Stop At The Oasis

This is supposed to be my resting day before I immerse myself completely in Rectoverso project. So I did what necessary to soothe and pamper myself. I went to L'Ayurveda, a holistic one stop center where you can have therapy, massage, etc, etc. I had 60 minutes massage and 45 minutes Ayurvedic Shirodara where they pour warm oil on your third eye and everything. Nice.

Keenan is in town, too. So I had one day playing and pampering. What an oasis.

Tell you the truth, not so in the mood of writing today. But I know I gotta make some progress, even a little. So I finished my chapter 19. Last word count: 32,100 words. Beluuum... belum setengahnya! Heheh. Almost.

Menjawab pertanyaan dari posting sebelumnya: kapan ketemu Keenan? This weekend! :)

Well, kalau di Bandung sih ketemu terus. Tapi berhubung minggu ini memang dijadwalkan untuk produksi Rectoverso, terpaksa saya stay di Jakarta dulu sampai Jumat depan. Keenan (versi non-fiksi) diboyong ke Jakartanya hanya waktu weekend saja, karena dia juga sekolah di Bandung.

PS. I dunno how I juggle with these stuffs either. But here I am, still sane and sound (dunno for how long, heheh).

Thursday, November 8, 2007

Day 19 – Catching Up, Surprisingly

Saya sendiri nggak sangka. Sekalipun baru pulang jam empat subuh tadi, bangun jam 11 dalam keadaan kurang berenergi, saya ternyata bisa menulis dan menyelesaikan chapter 18, plus mengerjakan sebagian chapter 19. Not bad at all. I’m quite proud of myself. Padahal rasanya kasus overheat itu masih belum berakhir.

Mungkin juga karena saya mengurung diri seharian, hanya keluar waktu menyeberang ke warteg depan beli makan siang, energi saya jadi cukup tertabung dengan baik. Seharian ini pun ditemani wangi aromaterapi yang baru kemarin dihadiahkan oleh Andi Rianto. Konon khasiat yang tertera di botolnya adalah untuk mengembalikan keseimbangan. Barangkali betul demikian.

And now I’m on my way back to my producer’s house, Tommy Utomo, untuk finalisasi lagi beberapa aransemen. Masih ada waktu besok sebelum saya menghentikan timer sejenak. Masih ada waktu besok untuk istirahat sebelum proyek Rectoverso resmi ‘dimasak’ di dapur rekaman.

I’m missing my Keenan actually. My living, 3-year-old Keenan. Baru besok dia diboyong ke Jakarta. Satu hari lagi mengisi baterai sebelum mulai berjuang hari Sabtu.

Wednesday, November 7, 2007

Day 18 - (Almost) Another Rectoverso Break

At Andi Rianto's house. It's almost 12 AM. Dan masih harus mengerjakan guide vocal untuk tiga lagu. I'm counting my days to Rectoverso production. 3 days to go, everybody.

Tapi hari ini saya masih belum mau menyetop timer. Hari ini saya masih berusaha menulis, meski cuma dapat satu halaman. Jadi chapter 17 masih setengah jalan. "Beruntung" namanya kalau besok bab itu bisa selesai. Tapi saya masih mau berusaha.

Rasanya saya mulai mengerti mengapa jurnal ini pada akhirnya membantu saya untuk maju terus. It's like having a supporting group, even though I cannot see you guys, and this writing process is something that I have to endure all by myself, in the solitude of my head quarter, and in my inner universe.

Last word count: 30,650 words.

Tuesday, November 6, 2007

Day 17 - Overheat

Rasanya… seperti baterai kelamaan di-charge. Panas.
Ini bukan virus malas, ini kasus overheat.
Something quite monumental actually took place today. Saya dan beberapa teman menandatangani akte notaris untuk berdirinya penerbitan Truedee, yang rencananya akan dikembangkan mulai tahun 2008. Kami akan mulai menerbitkan karya-karya penulis lain di luar saya sendiri. Mohon doa teman-teman.

Maybe because of that, and also the physical exhaustion due to the hectic schedule in Jakarta, rasanya malah jadi… blank.
It was almost four when I arrived at my head quarter. Bandung was gloomy. Drizzling rain since morning. 19 degrees Celcius. Yet, my head was burning.

Sore ini saya menyusun ‘outline’ (well, it wasn’t actually an outline, just some guiding pointers, but essential for me to create a logical timeline) untuk tiga bab ke depan.

Five o’clock. I don’t think I could write any longer. Ngantuk. Set my alarm at 6, and then I dozed off.

Wake up at 6. My driver will pick me up in an hour. I stared at my blank page. I pushed my last energy.

Came out one page.

Berat abis rasanya.

Blah.

Monday, November 5, 2007

Day 14-16 - Not Getting Easier


Day 16 – The Unexpected Challenge


Sebagai buntut dari konser reuni RSD yang cukup sukses di Bandung bulan Oktober lalu, saya sudah pernah mendengar selentingan bahwa ada sponsor yang tertarik membawa RSD tur ke beberapa kota di Jawa Barat. Hari ini, saya mendapat kabar bahwa rencana itu akhirnya jadi. Tidak tanggung-tanggung, 12 kota. Mulai tanggal 17 November hingga 15 Desember.

Termenunglah saya. I know darn well what that means. Another heavy load of work in the middle of what has been a tightly pack schedule already. Kadang-kadang, hal seperti begini membuat saya kepingin ketawa berguling-guling di lantai. I mean… it’s such a cosmic joke! As if the Rectoverso project is not huge enough, as if this 55 Days Project is not suicidal enough, and the universe decided to give me another tour to 12 towns in less than a month.

This is crazy. But this is a fact. All of these projects are real, dan tidak ada cara untuk melewatinya selain melewatinya. Dan saya bertanya dalam hati, apakah ini semacam pelatihan three-in-one; fisik, mental, spiritual digabung jadi satu? Did I sign up for some kind of training here or something? Did I? Yo, universe?

Going back to Bandung tonight. Will be back again to Jakarta on Wednesday for Rectoverso intensive workshops. Gila, apa kabar tuh markas tercinta?

Finished my chapter 17.


Day 15 – Event Within An Event

Jadwal hari ini adalah kick-off cervix cancer awareness campaign di Four Seasons Hotel, masih di Jakarta. Thank God I have few hours in between that I can use for work, not to mention ‘on-the-road’ slot that can at least produce a half page.

Setiap ada slot waktu kosong, entah setengah jam atau lima belas menit, I tried to write. It’s like an event within an event. Finished my chapter 16.


Day 14 – Rectoverso Break part 1

Pamit tidak menulis. Hari ini dijadwalkan untuk pergi ke Jakarta dan menggarap guide vocal untuk Rectoverso yang akan mulai masuk studio rekaman seminggu lagi. Whoo-hoo! Can’t tell ya how excited I am (sekaligus juga tegang). It’s going to be a huge production, live recording, involving 34-pieces orchestra, and many musicians. And here I am, at 1 am, still at my producer’s house.

The reason why I wrote ‘part 1’ is because this break will not be the only one. Bisa jadi saya akan break satu minggu, starting Nov 10 – 15. Selain itu, untuk setiap workshop intensif yang akan dilakukan sebelum rekaman, kemungkinan besar saya juga harus mengambil cuti sejenak dari proyek 55 hari ini.

At least, for that one week recording break, I think it’s fair enough for me to pause the timer.

Friday, November 2, 2007

Day 13 – Productively Exhausted

Dengan segala daya upaya tenaga yang tersisa, saya menulis di jurnal ini. So… frikkin… tired.

Empat halaman tercapai hari ini, hasil ngantor dari jam 14.30 sampai 19.00. But again, this chapter requires longer length, so I haven’t officially finished my chapter 16. Dilanjut dengan meeting, which was sooo… darn heavy. Involving numbers, lotsa numbers, strategies, etc, etc.

By the way, ceritanya Perahu Kertas sebenarnya lagi seru banget. Gila. Dan saya resmikan semua album Mocca sebagai soundtrack dari proyek 55 hari ini. Terutama lagu Life Keeps On Turning dari album My Diary. Cocok banget untuk hampir segala suasana cerita. Begitu suasana romantis dan agak-agak sendu gitu, ganti ke Joni Mitchell, “Both Sides Now”. I’m in love with that song. One of the most beautiful songs I’ve ever heard.

Gotta sleep now. Can’t think of any better activity.

Thursday, November 1, 2007

Day 12 – Let’s Count

Saya agak terusik dengan apa yang saya tulis kemarin. Pada saat kebosanan memuncak, kadang-kadang kita lebih mudah melihat bahwa gelas itu setengah kosong ketimbang setengah isi. Lebih mudah berpikir cenderung pesimis/negatif ketimbang optimis/positif.

Hari ini pandangan saya agak lain. Kemarin saya mengatakan: saya “baru” sampai bab 15. Hari ini saya merasa lebih sreg untuk mengatakan saya “sudah” sampai bab 15. Five chapters from now, I’m half way through. It’s not bad at all.

I also counted the amount of words I’ve come up with so far, it’s 24.800 words. One-third, everybody. Pesimis dan optimis hanya masalah persepsi, yang setiap harinya bisa berubah. But that word count is realistic. One-third. Not bad at all.


PS. Tadi malam saya menjadi “korban” Facebook, terjaga sampai setengah lima pagi. Nggak ada hasil pula. Bangun jam 10 dengan kondisi yang nggak asik. My energy is drained out. Tekad saya malam ini hanyalah posting di jurnal, dan langsung meng-klik ikon ‘turn airport off’ di laptop saya. Seriously, limiting ourselves from the cyber world, especially in this particular stage, is a very wise thing to do.