Showing posts with label Production. Show all posts
Showing posts with label Production. Show all posts

Wednesday, March 12, 2008

Day 60 – Perahu Kertas Berlabuh

This is it. The 55 days project. Plus five. 5.55.
Funny. I saw that number this afternoon. Guess the universe was trying to tell me something, or reconfirm something. 555.

I started very late. Perhaps, knowing that this would be my last day, a part of me didn’t want to believe it. Walaupun hari-hari produksi ini bukanlah momen yang selamanya gampang dan mulus, malah seringnya berat dan keparat, ternyata di bawah sadar sana, saya merasa ada bagian yang merasa kehilangan dengan itu semua.

Pagi ini, saya pergi ke Pasar Cihapit bersama Keenan dan Berna, babysitter saya. Saya membeli aneka keperluan dapur, plus beli tempe bacem di warung nasi langganan saya (Bu Eha – you guys might have read her name in my ‘Cuap-cuap Penulis’ in Supernova 1). I just want to have the best lunch ever. After lunch, in a normal dining table that is, not on a sofa bed like I used to have in HQ, I started planning to escape.

I could hear Keenan was crying out loud when he realized I was gone. And I couldn’t bear it. So I left my HQ again, menemani dia nonton teve, sambil membacakan cerita. I just waited until he calmed down. Baru lepas pukul 3, saya bisa ‘kabur’.

I moved slowly in the beginning, bahkan beberapa kali sempat tergoda oleh ke-kurangpenting-an Facebook. Dan ternyata, memang ada ‘alur macet’ di awal Bab 46 ini, yang ketika jalan ceritanya dikoreksi, aliran kreativitas kembali lancar.

Saya bikin taruhan dengan produser saya, bahwa Perahu Kertas akan selesai pada pukul 9 malam. I said, I could do it. Lima menit menuju pukul 9, it’s finished. But, hey, I wanted to write an epilogue. So I added a half page. 9.05 PM, the story is completely finished. 12 Maret 2008, 9.05 PM, Perahu Kertas lahir.

I checked my word count. Ready? It’s 84,911 words.

The longest single novel I’ve ever written in my whole frikkin’ life.

The night was not over. Saya menyempatkan makan malam di HQ, terakhir kalinya dalam masa produksi Perahu Kertas. At 9.45, I went downstairs. Keenan masih bangun, dan kami sempat bermain. Bahkan saya sempat menonton American Idol.

The last part of the day: printing. Kemarin, saya sudah membeli toner baru karena tahu akan mencetak ratusan halaman. Dibantu oleh adik saya (dan komputernya yang super aneh bin ajaib itu), saya bertemu muka dengan Perahu Kertas pertama kalinya. Gosh. It was a FAT BABY! Tebalnya sekitar 4 sentimeter lebih. It was the thickest draft I’ve ever printed.

Everybody, I proudly present, my new baby:


Pic #2: Tampak Samping


And to my newborn, let me read to you the meaning of 555 in Angel Numbers:

Major changes and significant transformations are here for you. You have an opportunity to break out the chrysalis and uncover the amazing life you truly deserve.

Bon voyage, my child. May you have an amazing life. May you reside in many hearts. May you touch many souls.

Farewell, my child. You've broken your chrysalis. You belong to the world now. You’re free.

Day 59 – A Surprising ‘Ending’

As usual, I set up my HQ. A cup of coffee, a cup of hot chocolate, snacks that I haven’t finished, and lotsa of water. The rather unusual part was, Keenan didn’t go to school today. He woke up late, so did I. And so, it was quite challenging to find the perfect timing to escape.

I started a bit late. Close to lunch time. And it wasn’t easy to start the engine after it was heated up to such degree and then it took a sudden pause for three days. I felt like crawling back from zero.

Pe-er buntutnya Bab 43 pun masih tersisa. Akhirnya saya menyelesaikan Bab 43, dan mulai memasuki Bab 44 waktu siang menjelang sore. It was a rainy afternoon. Total, saya nggak keluar rumah sama sekali. Bahkan nggak keluar ruang kerja saya selama berjam-jam kecuali ke kamar mandi. And here’s the sms I wrote to my producer at 4.16 PM:

Moving on to the fifth page of Chapter 44. Gawat, nih. Bisa2 baru selesai di 46 instead of 45 ;p

My brain is extra burning today. Felt a slight headache. I was told that I might be rehydrated for I’d burned a lot of creative fire. And so I gobbled up some more water, and wrote, and wrote, and wrote.

Yep. Confirmed. I’m on Chapter 45… and… it’s not yet finished, people! Perahu akan menepi pada Bab 46. For sure.

I am so tempted to check my word count, but even for that, I didn’t have time. At 10 PM, I stopped. Otak terlalu panas. Kangen Keenan. And I really wanna take a hot shower. Phew.

Day 58 – Rescheduling

Pulang kembali ke Bandung sore hari. Berangkat pukul 5 dari Jakarta, dan tiba di Bandung pukul 7.30 malam. Keenan came along to pick me up. I miss him like crazy. Not only I didn’t have the heart to leave him for writing, I didn’t have the strength too. I was just so blah and tired.

I phoned Hypermind today, and asked about the launching. Saya agak khawatir karena tidak melihat persiapan yang cukup, dengan waktu yang terlalu mepet pula. Dan benar saja, sore hari tadi, saya mendapat kabar bahwa launching tanggal 12 positif diundur oleh pihak XL. And, yeah, that doesn’t mean much in my department, cause I’m still going to finish this project very soon. No reason to delay it. Na’da.

Tomorrow I’m going back to my HQ and launch this paper boat to its harbor. Wherever that may be.

Sunday, March 9, 2008

Day 57 – Closer To The Final End

Sampai hari ini, saya masih belum tahu apakah cerita betulan berakhir di Bab 44 atau 45. Sejauh ini, saya masih melihat dua kemungkinan itu terbuka sama lebar. I didn’t go back to Bandung today. Jadi, secara realistis, saya hanya akan mengerjakan satu bab saja hari ini, instead of two. Sementara besok Java Jazz sudah dimulai. Well, one or two, 44 or 45, I’ll wing it. Like I have so many choice, anyway. Heheh.

Reza berbaik hati meminjamkan ruangannya di Dharmawangsa Square untuk saya pakai menulis seharian. I know I can hang out in a coffee shop, which I did when I first arrived at DS. Saya sempat menikmati segelas Banana Latte dan dua porsi tahu goreng. But seriously, who could stand working, munching and drinking for 6 hours in the same place? Dan benar saja. Pukul empat, my eyes were so heavy, I just needed a nap. Untungnya, saya dipinjamkan ruangan itu, jadi bisa tidur siang empat puluh menit.

Berbekal satu botol jus Mama Roz pemberian Reza, I worked till 5.30. Five pages of Chapter 43. It’s not entirely finished, though the page quota is met. And I still have a dinner appointment at 6.30. Menyempatkan diri untuk sejenak cuci muka dan blow-dry di salon terdekat. Due to that short nap, I did look like a mess.

Case closed tonight. Maybe. Word count: 79.370 words.

Did I say 77,700 once? Ah, well.

Day 56 – Incubus Intermezzo

Malam ini saya akan menonton konser Incubus. Marcell had bought me the ticket already. Knowing such a great band they are, I think it’s worth watching. And perhaps, I also deserve a little break. Tapi pekerjaan tidak bisa berhenti. Target hari ini adalah meneruskan Bab 42. And so I worked in my meditation room from morning till afternoon. Clock’s ticking. I planned to leave at four. Turns out, I finished at 3.30. Dalam keadaan belum mandi dan belum packing.

Rencana untuk pulang-pergi hari ini pun mengalami perubahan mendadak, dan mengharuskan saya untuk heavy packing coz I’ll be staying in Jakarta till next Monday. Keenan came along today as well. So, positively, there’s no more working.

Leave Bandung at 5 pm instead. Traffic jam in Pasteur. Came late to the concert. Bahkan terpaksa naik ojek ke Tennis Indoor Senayan karena sudah terlalu mepet. Sementara mobil akhirnya berpulang ke arah apartemen untuk mengantarkan Keenan dan babysitter saya. Yep. Ojek to Incubus. But again, it was worth it. In my opinion, I think Brandon Boyd is half-god. I believe that every child has its own path, and parents should not impose their own projections on their children, but that night, man, how I wish Keenan one day would grow as a rockstar. No, no, to be exact, to be as captivating and talented as Brandon Boyd. And have a great band. Heheh.

Thursday, March 6, 2008

Day 55 – The Final Countdown

When Keenan left for school, I went to the kitchen and made a preparation for my ‘new’ headquarter. I prepared: a big bottle of water, a jug of hot water, a sachet of hot chocolate, a cup of coffee, a bottle of juice, and some snacks. Rencananya, saya akan menggunakan ruang meditasi di lantai atas. Itulah tempat paling tenang yang bisa saya pakai. Tantangan paling besarnya adalah: tidak dekat dengan toilet dan tidak ada meja kerja.

Untuk tantangan yang pertama, saya janjian dengan babysitter dan pembantu saya, untuk menelepon dulu jika ingin ke toilet, termasuk untuk memesan makan siang, makan malam, dan kebutuhan lainnya. Untuk tantangan yang kedua, meja kerja sebenarnya ada di ruang kerja, hanya lima langkah dari ruang meditasi, dan untuk seharian mengetik, pinggang saya juga butuh sesekali untuk duduk tegak dan benar. Tapi, berhubung ruang kerja saya terbuka, dering hp atau tak-tuk keyboard komputer saya akan memancing kecurigaan Keenan. Jadi, saya hanya pindah ke ruang kerja hanya kalau Keenan tidur siang.

Pic #1: New HQ




It was quite fun and adventurous. Creating a headquarter at my own house, lengkap dengan segala trik dan kiat. Kesempatan bagi saya juga untuk mempraktekkan apa yang saya pelajari di Zen Kinesiology, coz practically I’m going to lock myself up in a room for one whole day. Dengan beberapa gerakan sederhana, aliran energi bisa kembali direvitalisasi. Saya melakukan cross crawl, brain button, dll. And it worked brilliantly.

So, I started at around noon, finishing chapter 39. Sore hari, I moved to 40. Sekitar pukul 6.30 malam, saya mulai dengan Bab 41. At 10 pm… I stopped.
Never in my life, I wrote that much in one day.

I checked my word counter. It’s… are you ready for this? Ehm. Ehm. It’s… 75,775 words!! Yiiiiihaaaaaaaaaaaaaaaa… Yiiiiippeeeeeeeeee!! Hoo-raaaaaay!! Saya ulangi lagi, sodara-sodara: Tujuh puluh lima ribu tujuh ratus tujuh puluh lima!!

But, wait. Is the story finished? Nope. Three chapters to go, people.
Though I’ve completed my main task: 40 chapters in 55 days, or 70,000 words in 55 days, this journal is not over. Perahu Kertas belum berlabuh.

Nevertheless, tonight I will sleep a big grin on my face. 55 working days, and here I am. Breaking any known writing record in my whole life. The mission is not perfectly accomplished in a way, for I haven’t finished the story. Namun perjalanan 55 hari kerja ini merupakan sebuah petualangan dan pengalaman yang tak ternilai. This method may work or may not work in my other writing projects. But at least, right now I have a taste of it, that at one point in my life, I know I have the ability to pull off something like this.

This is not the end. But I hope you get something out of this journey so far. May it be an inspiration, may it be a hillarious entertainment, I’m just thankful for your company. All of you.

From the deepest core of my being, thank you.

Wednesday, March 5, 2008

Day 54 – Home Sweet Home

Back to Bandung. I arrived at 6.30-ish. No more HQ. And not enough time, I know. But I still got to try.

Rencana langsung buyar begitu bertemu Keenan. I missed him so much I decided to just play with him all night till he fell asleep. Dan baru setelah dia tidur, saya berkesempatan menulis. Itu pun tidak banyak, coz I’m just too tired. Chapter 39, one and a half page only. Leaving me an enormous amount of work tomorrow.

Pausing The Timer (8): Zen Kinesiology

Another course that I’m taking, consecutively from last week. Still from the same teacher, Dharma. And so, I’m pausing the timer till Monday.

Nevertheless, I’ve scheduled Chapter 38 to be finished by the end of the week. Jadi, selama dua hari ini, saya menyisihkan satu setengah jam untuk menulis di coffee shop.

Dan selama kursus, saya bahkan ‘menyembuhkan’ stres deadline ini saat praktikum. And yeah, it does help me a lot. Voila. Chapter 38 is (almost) finished by Sunday evening.

Day 53 – Itsy Bitsy Writesy

Back in Jakarta. My plan today is just to finish chapter 38. I worked for an hour at Dharmawangsa Square. Not enough time, I know.
Dan semalam, Bab 37 saya belum selesai sempurna. Jadi, siang ini saya hanya merampungkan Bab 37 saya.
Kesempatan bekerja berikutnya adalah malam hari, juga hanya sekitar satu jam. Tapi cukup untuk mulai bergerak ke Bab 38.
I’m still behind schedule. Sheesh.

Day 52 – Road Runner

Day 52 – Road Runner

I even have to reschedule my parents-teacher meeting at Montessori. There’s just not enough time. Hari ini menyelesaikan Chapter 36 & 37. After Speedy Gonzales, now I feel like a Road Runner.
Plus, this will be my last day in the HQ. Kos saya berakhir di bulan Februari ini, dan besok saya sudah kembali ke Jakarta. Kunci kamar terpaksa saya titipkan ke sopir saya. Besok, dia dan satu pembantu saya akan membereskan barang-barang di kamar ini. So long, headquarter.
Malam ini, saya juga cuma bertemu dengan satu rekan sekos, Dian. Yang lain sedang keluar. I just wrote down their numbers, hoping that I can send them copies of “Perahu Kertas” in the future.
Juga malam ini, karena tidak ada waktu lagi, saya pergi ke rumah Mulki, sahabat saya/bassist Seurieus, untuk meminta info tentang Pantai Ranca Buaya yang akan saya pakai dalam cerita (dulunya Pantai Cipatujah, tapi saya batalkan, karena ternyata kunjungan pada malam hari tahun ’93 dengan kunjungan saya terakhir pada siang hari Desember ’07 kemarin ini sangatlah jauh berbeda). Dari rumah Mulki, saya dibekali satu CD berisi foto-foto Pantai Ranca Buaya, lengkap dengan peta, dsb.
Tomorrow morning, I’ll be leaving to Jakarta. Haven’t packed. Gosh. Arrived at home at almost 12 midnight. Burning brain.
Word count until Chapter 36: 66,126.

Wednesday, February 27, 2008

Day 51 – Final Mapping

Sore tadi, pihak Hypermind menelepon saya untuk mendiskusikan pembagian unit bab Perahu Kertas. Untuk versi digital ini, satu unit babnya akan terdiri dari empat bab versi analog (I don’t even know whether ‘analog’ is the correct term for this context or no, but you know what I mean, right? ‘Analog’ here means the chapter dividing system I use for the printed book later on). Dan satuan unit itulah yang kelak akan didapat para pembaca untuk satu kali download.

Yang lebih dahsyat lagi, bahkan mereka sudah menyiapkan tanggal launching dengan perusahaan telco-nya, which is XL, yakni tanggal 12 Maret. Saya belum tahu pasti apakah tanggal itu sudah 100% fixed or no, tapi yang jelas tidak akan terlalu meleset dari kisaran tanggal tsb.

But here I am, with a launching date, and still quite many chapters to go.
Hari ini, saya pulang ke Bandung. Sekitar jam 6 saya tiba di markas. Mulai bekerja untuk menyelesaikan chapter 35. Sekitar jam 8 akhirnya chapter 35 selesai. Dan saya tertumbuk pada pe-er berikut, yakni pemetaan final alias membuat outline sampai ending. Dan untuk menyusun peta ini saja sudah memakan hampir sejam sendiri. Gosh. I’ll be picked up in 10 minutes.

Anyway, here’s the result: the story will end at chapter 44. Approximately at 77,700 words. 11 units consist of 4 chapters each.

And now I am at 63,428 words. Submitting 8 units out of 11.

Seperlima kosong… atau tigaperlima isi? That is the question ☺

Wednesday, February 20, 2008

Day 50 – Is it really…?

Is it really five more days? Is it really five more chapters? Both, I doubt.
I’m on Chapter 35 tonight. Started quite late today, got few things to do first, dan membuat outline untuk beberapa bab ke depan. Finished Chapter 34 at 8.30 pm. Dan rasanya cerita masih akan bergerak jauh melampaui Chapter 40, kecuali jika plot cerita ditata ulang. Yang jelas, melampaui 70 ribu kata.

I have to pause the timer again this weekend due to the course that I’ll be taking. But even with that pause, I doubt if I could finish the story. Karena sekarang ‘finish’ tidak mutlak Bab 40. Bisa saja Bab 40 terselesaikan, but that’s not gonna be the end of the story.

Anyhow, let me just count the words so far: 61,648.

Tuesday, February 19, 2008

Day 45 - 49

Day 49 – Going Through A Crisis

I started late today. Had several things to do first, termasuk menjemput babysitter saya dari rumah sakit. Baru sampai ke mabes jam empat sore.
And, man, I could feel my energy’s depriving. Hot chocolate, sebungkus kue ape, dua plastik cakue, tidak membantu sama sekali. Yang ada malah saya ngantuk luar biasa. Fell asleep for almost two hours. Dengan aneka perasaan jenuh, berbeban, dan sebagainya. Rasanya pekerjaan ini terlalu sulit. Nyaris tidak mungkin selesai tepat waktu. Bangun-bangun, sudah jam tujuh lebih.
And so I tried… a paragraph, and then two, and then three, and then a half page. The ball started to roll. Working on the second page, third, fourth. And I can say it’s done.
Target awal saya adalah dua bab dalam hari ini. Ended up with only one. Penuh perjuangan pula. Yet, I’m grateful that I’ve passed the crisis. Seriously, there were moments where I felt I couldn’t write a thing today. Phew.


Day 48 – Purrr-sistence

My babysitter won’t be coming back from the hospital until tomorrow. Pembantu saya yang satu lagi juga diposkan di rumah sakit untuk menjaga. Hari ini gantian menjaga Keenan dengan ayahnya. I sneaked out when Keenan was taking a bath. Marcell cerita kalau Keenan menangis ketika melihat saya sudah tidak ada. Yep. It was a heartbreaking experience.
Finishing Chapter 31. Slowly working on Chapter 32.
Akhirnya, pukul sebelas kurang… it’s finished.
Word count: 56,810 words.


Day 47 – Amazing Challenges


Finishing Chapter 30. Memulai Chapter 31 sampai tigaperempatnya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Keenan stayed at his grandparent’s house ever since my babysitter was hospitalized. But I’m picking him up tonight. And I don’t want to miss Keenan’s bedtime. Saya minta dijemput pukul 10. Selesai tidak selesai. Dan… memang tidak selesai.
Besok terpaksa memulai dengan Chapter 30, instead of 31.
Marcell pulang ke Bandung malam ini, being such a godsend. Setidaknya besok saya bisa pergi bekerja dengan tenang karena Keenan bisa ditemani ayahnya.
Merenungi kembali semua tantangan selama mengerjakan Perahu Kertas ini… amazing how unexpected challenges keep on coming, eh? But I also see helping angels are everywhere.


Day 46 – Behind Schedule (I Think)


Still struggling and behind schedule. Finishing Chapter 29 and working on Chapter 30. Two pages only. Mengerikan!
Hari ini saya manggung pula, bersama Marcell di Mall Taman Anggrek. Finished at 9-ish, and went straight to Bandung. Tried to work a little. But my eyes were just too tired. Dapat kabar dari rumah, my babysitter was hospitalized. And I thought… uh-oh, what now? As if juggling with my work, deadline, Rectoverso, website, family, personal matter, is not overwhelming enough, and now… this. But as the saying goes: que sera, sera. Baby step. One step at a time. Gotta keep that in mind.


Day 45 – Carried Away

Rehat sehari yang menghanyutkan. Saya sempat lupa bahwa deadline sudah bukan lagi karet elastis yang masih bisa diulur dengan negosiasi. Deadline sudah berubah menjadi batu karang yang tak bisa digusur dan digeser, kecuali oleh sesuatu fenomena maha luar biasa, seperti… kejatuhan meteor, or, yea, something like that.
I tell you something about this deadline and its relation to my schedule. Meskipun resminya deadline Perahu Kertas adalah tanggal 25 Februari, saya harus berhenti menulis selama setidaknya 3 hari, yakni 22-24 Februari, karena harus mengikuti kursus Zen Counselling yang berlangsung dari pagi sampai malam. Sangat tidak realistis kalau saya masih menargetkan untuk menulis pada tanggal-tanggal tersebut, walaupun tidak ada salahnya dicoba jika kepepet.
Today, I worked very little. Not even LDLM. Still on Chapter 29. Bad me!

Day 35 - 44

Day 44 – Back to Jakarta

Although didn’t have so much target whenever I’m out of my HQ, today can be categorized as LDLM (Lumayan Daripada Lu Manyun – in case you guys forget this corny term that I love so much). Finishing Chapter 28, and starting Chapter 29.


Day 43 – Catching Up

Kembali ke markas. Menyelesaikan Chapter 27. Pukul 8.30-an malam mulai bergerak ke halaman ke-2 Chapter 28. Not bad, not bad at all.
I worked till 10 pm. Chapter 28 is almost finished, but not entirely. I’m letting it go, though. Rasanya malam ini lebih penting mengeloni Keenan ketimbang meneruskan pekerjaan.
Word count: 49,209 words.


Day 42 – Work Day (Non-Writing)


Shooting and then series of meetings. Going back to Bandung tonight at 9. Didn’t write at all. Too tired. Blah. Blah. Entah kenapa, di satu titik pada sore hari tadi, mendadak energi saya merosot drastis. Enek dengan segala sesuatu yang berbau pekerjaan.


Day 41 – Another Trip to Jakarta

Like I said, cannot hope too much when it comes to travelling. Besok saya ada syuting dengan Trans TV dan GlaxoSmithKline, jadi saya memutuskan pergi ke Jakarta dari hari ini supaya tidak terburu-buru.
Had a couple of things to do today, and they were stretched until midnight. Hanya sempat bekerja sekitar satu jam di Dharmawangsa Square, bertemankan segelas es teh dan sepiring tahu goreng. Not bad, though. Two pages or so. But still on Chapter 27.


Day 40 – New Perahu Kertas Record!


Inilah prestasi penulisan terpanjang dalam sejarah Perahu Kertas so far. Dua bab komplet dan utuh dalam satu hari. Chapter 25 dan 26… selesai hari ini juga. Dan perasaan saya mengatakan, apa yang dianggap rekor hari ini akan menjadi hal yang biasa bahkan harus menjadi kuota harian jika deadline sudah semakin dekat nanti. Nevertheless, I congratulate myself. Selamat ya, Dewi.


Day 39 – Speedy Gonzales!

Setelah beberapa kali berstatus LDLM, today I’m quite proud of myself. Hari ini berhasil menyelesaikan Chapter 23 PLUS Chapter 24! Whoo-hoo.
Word count: 41,795 words.


Day 38 – LDLM


Sekembalinya dari Jakarta, langsung menuju UNPAR untuk talkshow di acara pameran buku Fak. Ekonomi. Kembali ke markas Tubagus selepas pukul empat sore. And I missed Keenan too much I wanted to be picked up no later than 8 pm. Pulang dengan menghasilkan dua halaman dari Chapter 23. Sebuah status pencapaian yang saya istilahkan sebagai status LDLM. Lumayan Daripada Lu Manyun.


Day 37 – Trip to Jakarta

Series of meetings and a friend’s birthday party. Didn’t work today. By now I must say, writing while travelling – either business or pleasure – had become such a fantasy too, yang tetap enak diimajinasikan.


Day 36 – Back On Track


Finishing Chapter 22. Dengan harapan muluk bisa start Bab 23 malam ini juga, yang tentunya, tidak terjadi. By now I must say, continuing work at home had become such an impossibility, tapi tetap enak untuk diimajinasikan. Heheh.


Day 35 – Back From The Dead


Setelah hampir dua bulan menjadi buronan tempat kos (tetap bayar sih), hari ini saya kembali lagi. Aneh juga rasanya. Semuanya berdebu. Lantai, tempat tidur, meja kerja, kursi kerja, KBBI. Saya menghabiskan setengah jam pertama untuk beres-beres.
Even after that, I couldn’t work immediately. Otak saya pun rupanya berdebu. I realized there were many ‘upper layers’ of thoughts that had to be dealt with first. Saya mengetik beberapa pekerjaan dan hiburan yang tak ada hubungannya dengan Perahu Kertas terlebih dahulu.
After few hours, barulah saya memulai pekerjaan yang sesungguhnya. It was quite a struggle. Two pages. Medium-slow speed. And after two pages, my mind started to wither.
Hari sudah malam, dan saya minta dijemput pukul delapan. And so I went home. Wishing that I could continue at home. Nope. Didn’t happen. Two pages and didn’t move.

Thursday, December 6, 2007

Day 34 - Merangkak Tapi (Mudah-mudahan) Pasti

Bangun pagi lagi hari ini, untuk pergi ke ITB, diskusi film di Festival Film Asia Afrika yang diselenggarakan Deplu dan LFM ITB. Dalam diskusi itu saya berkesempatan bersandingan dengan salah satu penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma. Man, what a moment. Though I know him in person, and even his family (strangely enough, I’m a friend of his father and his son. So it’s three generation of friendship), but still I’m lightly starstrucked when he’s around. Diskusi berjalan sampai siang, dimoderatori oleh sahabat saya, Gustaff dari Common Room.

Rehat sejam, dan saya kembali diundang ke Common Room untuk bincang-bincang informal dalam rangka pembuatan forum Bandung Creative City, yang diprakarsai anak-anak muda Bandung dari berbagai bidang, dengan satu benang merang: kreativitas. I looked at them all, and I feel proud and blessed to be part of them. Kami rata-rata teman seangkatan, yang sudah saya kenal sejak SMP dan SMA, dan sekarang kami berkumpul membicarakan masa depan kota Bandung. Somehow it still felt like the kind of talk we had in front of our school yard, at our usual warung, etc. But now it’s happening in a larger scale.

Hari ini bergerak ke Bab 21. Merangkaaaak… but I’m getting there.
It’s so intriguing (and sometimes amusing) to have this deadline in December, sementara tanpa proyek ini pun, rasanya saya tak ada kesempatan bernapas. Well, I did breathe for a couple of days last week. Such an oasis. Tapi lepas dari sana, tanpa kompromi, acara demi acara langsung menghadang. Termasuk besok, pergi dua hari ke Tasikmalaya dan Kuningan bersama RSD.

Day 33 – The Engine is On!

I’ve always believed that when it comes to creativity, timing is so mysterious. We can have a deadline, but somehow there’s a more powerful force than that. As you’ve all witnessed, after Rectoverso intense production, I couldn’t bring myself to move on to another project right away. Some transitional process is needed. Dan di dalamnya termasuk periode rehat, beristirahat, dan pemulihan.

Secara mengejutkan, di hari liburan kemarin justru saya mulai tergerak menulis. Walhasil, bab 20 selesai. My word count shows 34,650 words. I can now say I’m officially half way through.

Hari ini berangkat ke Cirebon bersama RSD. Had a heartfelt talk with the girls. Setelah jalan 7 kota bersama-sama, we realize our togetherness and our curhat session is what we miss the most.

The show was simple and nice. Penonton kebanyakan malu-malu tapi mau. Lagi-lagi, penonton Cirebon yang diramalkan berkarakter seperti Majalengka, kembali tak terbukti. They even were more shy than Banjar. But it was fun, despite the laron attack we had on stage. Ada satu laron yang bahkan dengan jitunya terbang ke mata saya. I couldn’t hold my laugh, though fortunately I could hold my note.

Day 31 & 32 - Great Shows

Day 32 – Surprisingly Fine

Going to Banjar. Mental saya pun bersiap untuk rangkaian perjalanan melelahkan. Inilah kota terjauh dalam rute kami, empat jam dari Bandung. Sementara besok pagi jam 6 saya sudah harus ke Bogor untuk talk show jam 9 pagi di Botanic Center. Gila, gila, gila.

Isu yang kami terima, penonton Banjar agak mirip dengan Majalengka. Karena alasan itu, plus alasan saya harus cepat kembali agar tak terlalu lelah untuk ke Bogor, kami diposisikan main kedua sebelum terakhir.

Ternyata isu itu tak terbukti. Penonton, yang kebanyakan ABG dan tidak tahu lagu kami, tetap apresiatif dan duduk tertib. It wasn’t exactly Jatos, and the sound system wasn’t as perfect, banyak terjadi feedback, but it was considerably okay. Selesai jam 9.30, I rushed back to Bandung. Ide untuk langsung ke Bogor digugurkan karena terlampau melelahkan. Tiba di Bandung jam 2.30, hit the bed on 3. Dalam dua jam, harus kembali bangun dan bersiap ke Bogor.


Day 31 – The Best Show So Far


I noticed something. Timbre suara saya agak berubah, pertanda kebanyakan nyanyi. Rekaman dan show hampir berjalan nonstop. Seduhan air jahe merah menjadi andalan, termasuk upaya tak banyak bicara.

Hari ini RSD show di Jatos, alias Jatinangor Square. Dengan posisi yang dekat dengan Bandung, dan dengan komposisi yang hampir semua anak mahasiswa asal Bandung, this has been our most perfect audience so far.

Everything about the show tonight is blessed. The sound system was perfect, we hardly made any mistake, and our moods were uplifted. We had so much fun on the stage. Such a nice feeling.

Wednesday, November 28, 2007

Day 30 – Torn Between Slankers and Viking

Another tour, kali ini kota yang dituju adalah Majalengka. There’s only one hotel in this town, dan fully booked karena ada rombongan haji. Akhirnya kami hanya transit sejenak di rumah pemilik radio yang menjadi sponsor acara.

I didn’t remember when was the last time I came across that kind of audience, barangkali ini pengalaman pertama kami. Begitu kami naik, penonton yang kebanyakan pria sudah merangsak maju ke panggung. Penonton yang duduk di belakang sepertinya tak akan melihat apa-apa, karena mereka yang di depan ini ogah duduk. Banyak yang bahkan duduk di atas pundak temannya sambil mengacungkan tangan. Mata mereka kebanyakan menggantung setengah, berteriak dan berjoget—bahkan ketika tidak ada musik. Beberapa ada yang menggelar spanduk Persib. Lagu Slank yang dibawakan oleh band sebelum kami membuat mereka semua berteriak orgasmik. I just knew it… we’re in a totally wrong crowd.

Sita masih sempat berusaha merebut hati mereka dengan meneriakkan “Hidup Persib” dan “Semoga Persib tidak keluar dari empat besar”. Saya sudah mau mati menahan ketawa. Namun lewat dari dua lagu, she gave up. We all gave up. They’re not our crowd. And we’re not their type of entertainers. Period. Hal itu dikonfirmasi ketika mereka tetap joget bahkan saat kami menyanyikan lagu “Kepadamu” yang slow dan mendayu-dayu itu. So, it was obvious, it wasn’t our song they loved, they just needed the drum beats.

Rida memutuskan di atas panggung untuk mengurangi lagu, dan sungguh keputusan yang bijak. Di pertengahan lagu terakhir, massa itu buyar mendadak karena terjadi perkelahian di luar. And of course, the fight was way much more interesting than our music. Seperempat lagu terakhir barulah kami melihat penonton yang duduk di belakang, yang memang datang untuk menonton RSD, dan terpaksa hanya menontoni punggung-punggung selama 6 lagu. Poor them. Poor us.

Heading back to Bandung at 10.30. It was some experience, all right.

Tuesday, November 27, 2007

Day 27-29 - A Short Holiday

Day 29:

Pulang ke Bandung. Kami merencanakan pulang via Garut dan makan siang di sana. Ada sebuah tempat makan yang mengusik rasa penasaran saya, dan saya putuskan untuk mengecek kembali tempat yang kemarin terlewat ini. Namanya “Mulih Ka Desa”, sebuah restoran dan hotel di tengah sawah. Nice place. It’s like West Java’s version of Ubud.

Sampai di Bandung, langsung dihadang rapat serius dengan teman-teman dari Penerbit Truedee. Untungnya, rapat diadakan di rumah saya, so I didn’t have to spend another trip on the road. Enough with these three days. Kami membicarakan rencana kerja sebulan ke depan. Dan tentu saja, “Perahu Kertas” juga disinggung.

You know what? If my speed is constantly a chapter a day, I have to work pretty soon.


Day 28:

Meneruskan tema piknik dengan berkunjung ke Kawah Papandayan sehabis sarapan pagi. The view was unbelievable. Tapi perjalanan menuju kawah terasa sangat sepi, tidak ada mobil yang berpapasan. Sesampainya di atas, baru kami tahu kenapa. Meletusnya kembali Papandayan tahun 2002 telah menghancurkan jalan aspal yang tadinya bisa membawa orang-orang langsung ke dekat kawah. Sekarang kami harus trekking di jalan berbatu yang lumayan parah untuk bisa sampai ke sana. And I was with Keenan, so I thought I had to skip. But that little boy managed to walk for a hundred meters or so, di atas jalan berbatu dan menanjak, dengan sendalnya yang sedikit kebesaran.

Sekitar jam 12 kami turun ke bawah, langsung menuju Sweet Water, alias Ciamis. Didn’t go out much in Ciamis, just took a long nap. The show tonight was okay, too. Although Ciamis audience was more challenging than Garut. Lebih cool dan pelit tepuk tangan. Keenan juga protes ingin ikut pergi dan baru dibawa pulang ke hotel lagi setelah lagu kedua. Sponsored by a cigarette company, you can imagine the dense tobacco air wherever you go. Not an ideal place for a child.

As usual, the show ended at around 11. The rest of the group went back to Bandung tonight. I decided to stay over.


Day 27:


Mental saya mengondisikan bahwa perjalanan berikut ini adalah liburan. I’ve always loved Garut. Been there once when I was in my junior high, and it left a deep impression in me. Bertahun-tahun kemudian, saya bahkan sampai membuat cerbung yang sebagian besar mengambil lokasi di Garut (proyek cerbung pertama saya sebelum “Perahu Kertas”).

The view was still breathtaking. Something about the rice fields and mountains, they always manage to move me. Sedari kecil saya mendamba punya kampung halaman yang bisa dikunjungi ketika liburan, persis seperti cerita-cerita standar buku teks SD. And I found refuge in my friends’ grandparents. I had my first ‘berlibur ke rumah nenek’ adventure when I was in 6th grade, and I got addicted ever since. Dan jika ditelaah lagi dari selera makanan, pola perilaku, minat tema cerita, dsb, one can easily detect the eternal ‘anak kampung’ within me.

Sempat berjalan-jalan ke pusat kota Garut bersama Rida dan Sita, makan sop buah dan tahu goreng. Di tengah jalan, saya minta berhenti. I took Keenan for a delman ride. He was ecstatic, and so was I. Baru berasa ada di Garut. Persis di depan Universitas Garut—tempat kami manggung malam ini, there was a heavenly spot. Ada sebuah lengkungan jalan dengan pemandangan sawah membentang dan gunung Papandayan yang menjulang raksasa, dan di lengkungan itu terdapat satu pohon besar dengan bunga oranye bermekaran. Di tengah-tengah pemandangan serba hijau, pohon berbunga oranye itu mencuat sendirian, menyala seperti kebakaran. It was beautiful.

The show tonight was quite good. Banyak penggemar lama RSD yang datang, duduk mendengarkan sambil mulutnya komat-kamit ikut bersenandung. And we still had those fresh mango juices in our waiting room. Yummy.

Thursday, November 22, 2007

Day 26 – An Epiphany

Obrolan saya dengan Butet Kartaredjasa beberapa hari yang lalu memberikan saya pencerahan kecil tentang apa yang terjadi dengan saya sekarang ini.

Sewaktu syuting kemarin ini, kami berdua sempat mengobrol soal kegiatan Mas Butet yang baru saja kelar mementaskan sebuah monolog. Saya bertanya tentang cara dia mempersiapkan diri, dsb. Lalu Mas Butet menambahkan satu poin yang menjadi pencerahan bagi saya, beliau bilang: “Salah satu hal yang paling sukar dari pementasan adalah masa sesudahnya. Bukan hanya persiapannya. Memadamkan adrenalin dan cengkeraman kita pada pementasan itulah yang butuh waktu panjang. Saya pasti susah tidur berhari-hari. Dan saya biasanya hanya mau pementasan paling banyak setahun sekali.”

And I thought… that’s exactly it! That’s what I’ve been experiencing, and I still am. Dan saya terpukau sendiri, kok bisa-bisanya saya meluputkan satu faktor penting ini. Setelah berkarya empat buku, I knew exactly how that felt. Tapi masalahnya belum pernah saya diimpit multi-deadline sekaligus, jadi situasi ini terbilang baru. Namun saya dengan naifnya sempat bingung, kok saya nggak bisa nulis, ya? No matter how I pushed it, nothing came out. And I thought I was just making excuses for myself.

Ibarat orang baru melahirkan, selalu terjadi luka yang butuh waktu penyembuhan. I have experienced both physical birth and creative birth. And for some time after those births, I remember of living a limbo-esque period. Rasanya kayak nggak di sana, nggak di sini. My mental still clenched and grabbed onto my old project—yang bahkan belum berakhir karena tanggal 25-27 Nov ini saya masih harus rekaman lagi. But my logical mind told me to go on with the timer. And so here I am.

Tell you the truth, I really dunno when this ‘wound’ heals. It may take days, or weeks. Dan dengan timer yang sudah telanjur saya nyalakan kembali tanpa memikirkan faktor ‘luka’ pasca-produksi, I really dunno if I can make it. But I am less worried about it. Thanks to the enlightening conversation I had with Mas Butet.

Besok akan kembali menyusuri Jawa Barat bersama Rida dan Sita sampai hari Minggu. Saya putuskan untuk membawa Keenan serta agar kami bisa liburan sejenak memandangi gunung dan sawah.

Domba Garut… here we come!