Showing posts with label Announcement. Show all posts
Showing posts with label Announcement. Show all posts

Sunday, August 30, 2009

"Perahu Kertas" Available Now!


Penantian panjang itu akhirnya usai.
Sejak tanggal 29 Agustus 2009,
"Perahu Kertas" mulai tersedia di toko-toko buku.
Bagi yang sudah membaca, tengah membaca,
dan akan membaca,

semoga berkenan untuk memberikan komentarnya
di posting ini.

Para pembaca "Perahu Kertas" versi digital
yang sudah sempat berkomentar,
kesan-kesan Anda sudah dimuat dalam buku "Perahu Kertas".
Terima kasih untuk semua kesan dan perhatiannya selama ini.


Love,

~ D ~

Wednesday, January 14, 2009

Perahu Kertas Masih Akan Berlayar Di Dunia Digital


Setelah diluncurkan pertama kali pada bulan April 2008, “Perahu Kertas” masih akan meneruskan pelayarannya di dunia digital. Kali ini, “Perahu Kertas” akan diluncurkan lewat provider telekomunikasi lain yakni Indosat. Jadi, bagi para pelanggan Indosat, bisa bersiap-siap untuk menikmati "Perahu Kertas" di layar ponselnya.

Menjawab banyak pertanyaan yang mampir ke blog Dee 55 Days dan juga Dee Idea, versi cetak "Perahu Kertas" memang belum diluncurkan dan tidak ada di toko buku. Baru pada pertengahan 2009, "Perahu Kertas" akan menemui pembacanya dalam bentuk kertas dan tinta. Satu-satunya cara untuk menikmati "Perahu Kertas" sementara ini adalah men-download novel tersebut melalui layanan WAP dari provider ponsel Anda.

Mohon maaf bagi yang sudah menanti, dan terima kasih juga karena masih bersabar untuk menunggu lahirnya "Perahu Kertas" versi cetak.


Salam,

~ D ~


* Gambar sampul "Perahu Kertas" di atas adalah desain sementara yang masih akan berubah.

Wednesday, March 12, 2008

Pausing The Timer (9) – Java Jazz

One of the biggest music events of the year. I’ve been missing it for two times, and I don’t miss this one. And so for three (exhausting) days, I rest my case. There’s just no way I can write. I’m still lucky to be alive and healthy. It was fun, but goddamn tiring. Lack of sleep, too much standing up, too much tobacco smoke, and mediocre food.
The music was so fine though. And I had the best company too. So, it was worth it. Wasn’t exactly the easiest week of my life, but I didn’t regret it. At all.

Wednesday, February 27, 2008

Pausing The Timer (7) – Zen Counselling

Due the Zen Counselling course that I’m taking (yang mudah-mudahan liputan tentang kegiatan itu bisa dituangkan terpisah di blog Dee-Idea), I have to pause the timer again. Kali ini saya mengambil cuti sampai hari Selasa. Saya berangkat ke Jakarta dari hari Kamis, memulai course dari Jumat hingga Minggu, dan harus mengerjakan beberapa hal lagi pada hari Senin dan Selasa, dan kesemuanya memakan waktu seharian sehingga saya tidak bisa memaksakan diri untuk bekerja. However, tanggal 25 Februari merupakan janji saya pada Hypermind untuk mengirimkan naskah Perahu Kertas. Akhirnya, tanggal 25, beberapa menit sebelum midnight, saya mengirimkan 32 chapter pertama.

Tuesday, February 19, 2008

Pausing The Timer (6) – Valentine’s Day Break

Not usually a Valentine type. But I feel like honoring this day of love by not working, and just enjoy life… and… love. To the fullest.
Happy Valentine’s Day, everybody!

Newly Negotiated Deadline

January 29, 2008:

After exchanging few emails, saya dan Hypermind sepakat bahwa deadline baru untuk Perahu Kertas adalah 25 Februari 2008. Cannot be later than that karena pihak telco yang tertarik untuk bekerja sama telah menargetkan bulan Maret sebagai waktu peluncuran. These dates can still change, I know. But I also cannot delay any longer so I can work on other stuffs, or not work on all stuffs. Heheh. Kinda like the latter better.

I called my induk semang, Bu Ninong. Menceritakan kondisi saya, sekaligus menyatakan niat untuk memperpanjang tempat kos hingga akhir Februari. It has been proven. Having a headquarter is the best and most efficient way for me so far.

I count my calendar. Damn. Gotta work soon.

Monday, February 18, 2008

Garut Mission (Im)possible: 2 Stories in 2 Days

Kegiatan ini memang sudah cukup lama berlalu ketika saya menuliskan jurnal ini. Tapi inilah salah satu pengalaman menulis paling berkesan, produktif, sekaligus menyegarkan, yang membuat saya merasa cerita ini tetap patut dibagi. Dua hari, dua cerita pendek. Yang pertama saya selesaikan hingga jam 2 pagi, sementara yang kedua—yang berbahasa Inggris—saya tulis hingga jam 4 pagi. Dan sejauh ini, saya puas dengan keduanya.

Tapi, yang sangat berkesan adalah pengalaman berkreasi di lokasi yang begitu mendukung dan menyenangkan. Saya tiba di Garut menjelang sore, dan langsung disambut hujan besar. Setelah hujan reda, dengan cara memukul kentongan, saya pun memesan sebutir kelapa muda. Who would’ve guessed? Kelapa muda saya diantar berbarengan dengan komplimen sepiring singkong goreng. Dang! What a nice starting kick!

Pic #1: My Afternoon Snack




Penginapan yang dikelilingi sawah yang tak diperuntukkan untuk dipanen ini tentunya menjadi markas menyenangkan bagi burung-burung. Atap kamar saya ternyata menjadi rumah dari sekian banyak burung. Suara kepakan dan nyanyian burung menjadi pengiring konstan dari mulai pagi sampai malam. Tidak ketinggalan kokok ayam, suara aliran air di balong, dan aneka serangga.

Pic #3: My Working Spot




It was a rather close version of my heaven, actually. Well, minus the bugs, though. Sebuah fasilitas menginap yang nyaman dan sangat layak, suplai masakan Sunda setiap hari, udara sejuk tanpa mesin pendingin, breathtaking scenery everywhere I look… yeah, it was one heck of an experience.

Pic #2: My Heavenly Lunch



Malam pertama saya kedinginan bukan main, apalagi kerjanya sampai larut malam. Selimut tidak memberi banyak pengaruh. Pashmina yang saya bawa juga nggak ngefek. Akhirnya saya canangkan esok hari untuk mampir ke kota Garut demi membeli jaket.

Hari kedua, setelah makan siang, saya putuskan untuk ke kota Garut. Berhubung hanya didrop sopir saya, dan baru akan dijemput lagi esok harinya saat check-out, saya harus mengandalkan kendaraan umum. Usut punya usut, kendaraan praktis yang bisa mengantar saya adalah ojek. Akhirnya, dipanggillah tukang ojek langganan Mulih Ka Desa, yang katanya sudah biasa mengantar tamu.

Dengan helm yang mencekik kepala saking sempitnya, saya pun turun gunung ke Yogya Department Store di kota. Perburuan jaket berhasil dengan cukup sukses. Saya berhasil mendapatkan jaket berbahan fleece yang hangat. Saat perjalanan pulang, sopir ojek saya mendapat kode-kode entah apa dari rekan-rekannya yang berpapasan dengan kami. Lalu, ia meminta izin untuk mengambil jalan pintas karena ternyata di depan sana ada razia, dan dia tidak punya SIM. Well, so much of a ‘sopir langganan’. But I said, yeah, why not? Dan barulah saat itu saya merasakan ‘mulih ka desa’ yang sesungguhnya. Perjalanan masuk kampung dengan jalan berlubang dan berbatu-batu besar, terguncang-guncang selama perjalanan dan berusaha menjaga posisi duduk saya agar tetap stabil. Obat saya satu-satunya adalah pemandangan yang semakin indah. Other than that, it was quite a hellish ride. Walhasil, sesampainya di penginapan, kedua paha saya pegal serasa squat-jump tiga ronde.

Pada hari kedua ini, saya start menulis agak lebih sore. Sekitar pukul 1 pagi, tiba-tiba mati lampu. Penjaga malam yang tahu saya selalu bergadang sampai subuh (atau mungkin karena saya satu-satunya tamu hari itu), datang dan melaporkan bahwa tegangan listrik satu kota Garut turun karena ada gardu yang rusak. Tak lupa, ia menitipkan tiga lampu darurat untuk persediaan saya selama bekerja. Malam itu, saya bekerja berdasarkan ketahanan baterai yang tak lagi tersuplai listrik. Pukul empat pagi, baterai laptop saya tersisa di bawah 5%, dan pada saat itu jugalah cerita saya rampung. Perfect timing!

Bangun siang. Dijemput siang. Pulang sesudah makan siang. The Garut Mission is successfully accomplished.

Saturday, January 5, 2008

Pausing The Timer (5) – And this one has been a darn long break with a very late announcement… sorry.

Dear all,

It has been a while, I know. Juggling between the remaining RSD tour, Rectoverso, work, Christmas, New Year, family, friends, house errands, finally brought me to a point where I had to choose. Based on priority and physical-mental capacity, the most realistic choice was not to push myself on Perahu Kertas, and just let the project be paused for a while.

We’re now counting days for Rectoverso production. And I’m still two stories short. Babysitter saya pulang kampung selama dua minggu setelah tiga tahun tidak pulang. She just arrived yesterday. So, for the last two weeks, I consider myself lucky just to be able to check out my e-mails and wrote an article for Dee-Idea. Yeah, I did play with Facebook here and then, but that thing is no-brainer, so I considered it as my ‘colongan’ entertainment.

But has the deadline changed? Nope. Unfortunately not. Deadline tidak mau tahu dengan tur RSD atau pulang kampungnya babysitter saya selama dua minggu. So far, my fixed deadline is still this January (deadline saya pribadi—alias deadline idealis—adalah Desember, deadline dari perusahaan content provider adalah Januari). I dunno if I can lobby them to delay, kalau tidak, berarti sesudah ini tidak ada pilihan lain selain jungkir balik menyelesaikan Perahu Kertas sebisa-bisanya.

Namun berdasarkan penyusunan prioritas yang realistis, deadline Rectoverso lebih mendesak ketimbang Perahu Kertas. So I’m gonna have to say this 55-Days project is paused until I finish Rectoverso. Tomorrow, I’ll be gone for two-three days, back to the suburb, just for writing the two remaining RV’s stories. Pilihan saya jatuh pada… Garut. Ada satu penginapan plus restoran bernama “Mulih Ka Desa”. Saya sempat mampir ke sana sepulang dari Kawah Papandayan waktu tur RSD kemarin. Looks like it’s a convenient and wise choice for spending several days alone.

Ada satu pertanyaan yang mampir ke blog ini dan belum sempat saya jawab. I’ll try to answer it now. Pertanyaannya adalah: “Gimana caranya bagi waktu antara ngurus suami, anak, kerjaan rumah tangga, acara di luar, dan proyek menulis bukunyaa?” Jawabannya: Saya tidak tahu. Jujur, tidak ada metode khusus selain memilih dan menangani sesuai dengan situasi yang kerap berubah. Dan perjalanan yang tercermin dalam blog ini adalah contoh yang sempurna. Perahu Kertas yang tadinya mendominasi puluhan hari saya, tahu-tahu tergusur oleh tur RSD ke 12 kota, lalu Rectoverso muncul sebagai prioritas utama, tapi itu pun tergusur ketika babysitter saya pulang kampung dua minggu, so… seriously, I really dunno how, but just to juggle whatever ball that being thrown at me.

Was I always cool and composed throughout this juggling process? Certainly not. Beberapa hari yang lalu, saya bahkan berdansa-dansi di rumah dan nyanyi teriak-teriak demi menyalurkan stres, sampai akhirnya saya memutuskan untuk ke Garut beberapa hari demi menulis. Dan apakah nanti retreat menulis di Garut itu akan berhasil sesuai target? Apakah saya akan mengantongi dua cerita pendek saat pulang ke Bandung nanti? Tidak janji juga. But I’ll try my best to juggle with it, for sure.

It ain’t over till it’s over.

Thursday, December 6, 2007

Pausing The Timer (4)

Not only from Perahu Kertas, I think I need to pause my timer from ALL WORK!

The talkshow in Bogor will be my last work until Dec 4. Tanggal 5, tur RSD sudah kembali dimulai. So I firmly believe I need to take a break.

I’ve finished my talkshow at 12, then heading straight to Cengkareng airport. I’ll be flying to Bali for a short break. No internet. No singing. And, perhaps, no writing.

Wednesday, November 28, 2007

Pausing The Timer (3)

Hari ini kembali lagi ke Colloseum, untuk take backing vocal. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir rekaman di Jakarta. Jika ada penambahan lagi, dan kemungkinan hanya untuk backing vocal saja, kita ingin mencoba rekaman di Bandung.

The shift will start at 5 pm. Saya akan berangkat ke Jakarta after lunch, dan langsung pulang lagi nanti malam. Besok tour RSD sudah kembali menanti. Aktivitas super padat ini lama-lama rasanya seperti cosmic joke. It’s so tiring it becomes so funny. Hahaha!

Tuesday, November 27, 2007

Pausing The Timer (2)

Dua hari berikut, tanggal 26 dan 27 November, kembali menjadi hari produksinya Rectoverso. Kembali saya masuk studio untuk merekam vokal dua lagu terakhir yang merupakan nomor duet. Hari pertama, saya akan berduet dengan adik saya sendiri, Arina “Mocca”. Hari kedua, teman duet saya adalah Ridzky (dulu vokalis band bernama Tiket).

This shall be my first duet recording experience. Sounds fun. Dengan penata vokal, yang juga adalah teman saya dari SD, Irvan Nat, kami rekaman di studio Colloseum—studio yang juga dimiliki oleh sahabat lama saya, Baron (ex gitaris GIGI). You know, this is what I love the most about Rectoverso production. It’s a perfect combination between talents, professionalism, and friendship. I feel like I’m in a web of old familiar friends. Bahkan yang sepertinya baru kenal sekalipun ternyata sesungguhnya tidak terlalu ‘asing’. Contoh kasus: sekalipun saya baru kenal dengan Ridzky, tapi ternyata Ridzky sudah berteman lama dengan Irvan, dengan Baron, bahkan adiknya Ridzky—Rishanda—adalah pemain bass untuk semua lagu di Rectoverso.

Dari mulai eksekutif produser, produser, penata musik, penata vokal, pemain, bahkan kru… semuanya memiliki keterhubungan yang dekat dengan hidup saya dari berbagai era. This is such a blessed project. At least for me, I’m so happy to be in it, and to be with all of them. Can’t wait to share it with all of you.

Saturday, November 10, 2007

Pausing The Timer

Dear all,

Dengan ini saya mengumumkan berhentinya timer dari tanggal 10 - 15 November. Demi menjaga sakralitas dan fokus proyek rekaman Rectoverso (RV), I think it's fair for the RV project and also for me and everybody involved in the production, if I just paused everything else and focus on my recording session solely. Mohon doa restunya juga supaya semua berjalan lancar.

Here I am, at some warnet in Fatmawati street, just finished rehearsing with the band. If I got the chance and energy, would love to report glances of RV production in this blog as well.

Hari ini, teman-teman penerbit Truedee dari Bandung juga ikut datang ke studio, for this is gonna be our homework together -- music and book. I am excited as hell. I wish you all could feel the energy :)

All in all, thank you for your support and patience. Will get on to Perahu Kertas and 55 Days reportage after Nov 15. See y'all!