Bangun pagi lagi hari ini, untuk pergi ke ITB, diskusi film di Festival Film Asia Afrika yang diselenggarakan Deplu dan LFM ITB. Dalam diskusi itu saya berkesempatan bersandingan dengan salah satu penulis favorit saya, Seno Gumira Ajidarma. Man, what a moment. Though I know him in person, and even his family (strangely enough, I’m a friend of his father and his son. So it’s three generation of friendship), but still I’m lightly starstrucked when he’s around. Diskusi berjalan sampai siang, dimoderatori oleh sahabat saya, Gustaff dari Common Room.
Rehat sejam, dan saya kembali diundang ke Common Room untuk bincang-bincang informal dalam rangka pembuatan forum Bandung Creative City, yang diprakarsai anak-anak muda Bandung dari berbagai bidang, dengan satu benang merang: kreativitas. I looked at them all, and I feel proud and blessed to be part of them. Kami rata-rata teman seangkatan, yang sudah saya kenal sejak SMP dan SMA, dan sekarang kami berkumpul membicarakan masa depan kota Bandung. Somehow it still felt like the kind of talk we had in front of our school yard, at our usual warung, etc. But now it’s happening in a larger scale.
Hari ini bergerak ke Bab 21. Merangkaaaak… but I’m getting there.
It’s so intriguing (and sometimes amusing) to have this deadline in December, sementara tanpa proyek ini pun, rasanya saya tak ada kesempatan bernapas. Well, I did breathe for a couple of days last week. Such an oasis. Tapi lepas dari sana, tanpa kompromi, acara demi acara langsung menghadang. Termasuk besok, pergi dua hari ke Tasikmalaya dan Kuningan bersama RSD.
Thursday, December 6, 2007
Day 33 – The Engine is On!
I’ve always believed that when it comes to creativity, timing is so mysterious. We can have a deadline, but somehow there’s a more powerful force than that. As you’ve all witnessed, after Rectoverso intense production, I couldn’t bring myself to move on to another project right away. Some transitional process is needed. Dan di dalamnya termasuk periode rehat, beristirahat, dan pemulihan.
Secara mengejutkan, di hari liburan kemarin justru saya mulai tergerak menulis. Walhasil, bab 20 selesai. My word count shows 34,650 words. I can now say I’m officially half way through.
Hari ini berangkat ke Cirebon bersama RSD. Had a heartfelt talk with the girls. Setelah jalan 7 kota bersama-sama, we realize our togetherness and our curhat session is what we miss the most.
The show was simple and nice. Penonton kebanyakan malu-malu tapi mau. Lagi-lagi, penonton Cirebon yang diramalkan berkarakter seperti Majalengka, kembali tak terbukti. They even were more shy than Banjar. But it was fun, despite the laron attack we had on stage. Ada satu laron yang bahkan dengan jitunya terbang ke mata saya. I couldn’t hold my laugh, though fortunately I could hold my note.
Secara mengejutkan, di hari liburan kemarin justru saya mulai tergerak menulis. Walhasil, bab 20 selesai. My word count shows 34,650 words. I can now say I’m officially half way through.
Hari ini berangkat ke Cirebon bersama RSD. Had a heartfelt talk with the girls. Setelah jalan 7 kota bersama-sama, we realize our togetherness and our curhat session is what we miss the most.
The show was simple and nice. Penonton kebanyakan malu-malu tapi mau. Lagi-lagi, penonton Cirebon yang diramalkan berkarakter seperti Majalengka, kembali tak terbukti. They even were more shy than Banjar. But it was fun, despite the laron attack we had on stage. Ada satu laron yang bahkan dengan jitunya terbang ke mata saya. I couldn’t hold my laugh, though fortunately I could hold my note.
Pausing The Timer (4)
Not only from Perahu Kertas, I think I need to pause my timer from ALL WORK!
The talkshow in Bogor will be my last work until Dec 4. Tanggal 5, tur RSD sudah kembali dimulai. So I firmly believe I need to take a break.
I’ve finished my talkshow at 12, then heading straight to Cengkareng airport. I’ll be flying to Bali for a short break. No internet. No singing. And, perhaps, no writing.
The talkshow in Bogor will be my last work until Dec 4. Tanggal 5, tur RSD sudah kembali dimulai. So I firmly believe I need to take a break.
I’ve finished my talkshow at 12, then heading straight to Cengkareng airport. I’ll be flying to Bali for a short break. No internet. No singing. And, perhaps, no writing.
Day 31 & 32 - Great Shows
Day 32 – Surprisingly Fine
Going to Banjar. Mental saya pun bersiap untuk rangkaian perjalanan melelahkan. Inilah kota terjauh dalam rute kami, empat jam dari Bandung. Sementara besok pagi jam 6 saya sudah harus ke Bogor untuk talk show jam 9 pagi di Botanic Center. Gila, gila, gila.
Isu yang kami terima, penonton Banjar agak mirip dengan Majalengka. Karena alasan itu, plus alasan saya harus cepat kembali agar tak terlalu lelah untuk ke Bogor, kami diposisikan main kedua sebelum terakhir.
Ternyata isu itu tak terbukti. Penonton, yang kebanyakan ABG dan tidak tahu lagu kami, tetap apresiatif dan duduk tertib. It wasn’t exactly Jatos, and the sound system wasn’t as perfect, banyak terjadi feedback, but it was considerably okay. Selesai jam 9.30, I rushed back to Bandung. Ide untuk langsung ke Bogor digugurkan karena terlampau melelahkan. Tiba di Bandung jam 2.30, hit the bed on 3. Dalam dua jam, harus kembali bangun dan bersiap ke Bogor.
Day 31 – The Best Show So Far
I noticed something. Timbre suara saya agak berubah, pertanda kebanyakan nyanyi. Rekaman dan show hampir berjalan nonstop. Seduhan air jahe merah menjadi andalan, termasuk upaya tak banyak bicara.
Hari ini RSD show di Jatos, alias Jatinangor Square. Dengan posisi yang dekat dengan Bandung, dan dengan komposisi yang hampir semua anak mahasiswa asal Bandung, this has been our most perfect audience so far.
Everything about the show tonight is blessed. The sound system was perfect, we hardly made any mistake, and our moods were uplifted. We had so much fun on the stage. Such a nice feeling.
Going to Banjar. Mental saya pun bersiap untuk rangkaian perjalanan melelahkan. Inilah kota terjauh dalam rute kami, empat jam dari Bandung. Sementara besok pagi jam 6 saya sudah harus ke Bogor untuk talk show jam 9 pagi di Botanic Center. Gila, gila, gila.
Isu yang kami terima, penonton Banjar agak mirip dengan Majalengka. Karena alasan itu, plus alasan saya harus cepat kembali agar tak terlalu lelah untuk ke Bogor, kami diposisikan main kedua sebelum terakhir.
Ternyata isu itu tak terbukti. Penonton, yang kebanyakan ABG dan tidak tahu lagu kami, tetap apresiatif dan duduk tertib. It wasn’t exactly Jatos, and the sound system wasn’t as perfect, banyak terjadi feedback, but it was considerably okay. Selesai jam 9.30, I rushed back to Bandung. Ide untuk langsung ke Bogor digugurkan karena terlampau melelahkan. Tiba di Bandung jam 2.30, hit the bed on 3. Dalam dua jam, harus kembali bangun dan bersiap ke Bogor.
Day 31 – The Best Show So Far
I noticed something. Timbre suara saya agak berubah, pertanda kebanyakan nyanyi. Rekaman dan show hampir berjalan nonstop. Seduhan air jahe merah menjadi andalan, termasuk upaya tak banyak bicara.
Hari ini RSD show di Jatos, alias Jatinangor Square. Dengan posisi yang dekat dengan Bandung, dan dengan komposisi yang hampir semua anak mahasiswa asal Bandung, this has been our most perfect audience so far.
Everything about the show tonight is blessed. The sound system was perfect, we hardly made any mistake, and our moods were uplifted. We had so much fun on the stage. Such a nice feeling.
Wednesday, November 28, 2007
Pausing The Timer (3)
Hari ini kembali lagi ke Colloseum, untuk take backing vocal. Mungkin hari ini akan menjadi hari terakhir rekaman di Jakarta. Jika ada penambahan lagi, dan kemungkinan hanya untuk backing vocal saja, kita ingin mencoba rekaman di Bandung.
The shift will start at 5 pm. Saya akan berangkat ke Jakarta after lunch, dan langsung pulang lagi nanti malam. Besok tour RSD sudah kembali menanti. Aktivitas super padat ini lama-lama rasanya seperti cosmic joke. It’s so tiring it becomes so funny. Hahaha!
The shift will start at 5 pm. Saya akan berangkat ke Jakarta after lunch, dan langsung pulang lagi nanti malam. Besok tour RSD sudah kembali menanti. Aktivitas super padat ini lama-lama rasanya seperti cosmic joke. It’s so tiring it becomes so funny. Hahaha!
Day 30 – Torn Between Slankers and Viking
Another tour, kali ini kota yang dituju adalah Majalengka. There’s only one hotel in this town, dan fully booked karena ada rombongan haji. Akhirnya kami hanya transit sejenak di rumah pemilik radio yang menjadi sponsor acara.
I didn’t remember when was the last time I came across that kind of audience, barangkali ini pengalaman pertama kami. Begitu kami naik, penonton yang kebanyakan pria sudah merangsak maju ke panggung. Penonton yang duduk di belakang sepertinya tak akan melihat apa-apa, karena mereka yang di depan ini ogah duduk. Banyak yang bahkan duduk di atas pundak temannya sambil mengacungkan tangan. Mata mereka kebanyakan menggantung setengah, berteriak dan berjoget—bahkan ketika tidak ada musik. Beberapa ada yang menggelar spanduk Persib. Lagu Slank yang dibawakan oleh band sebelum kami membuat mereka semua berteriak orgasmik. I just knew it… we’re in a totally wrong crowd.
Sita masih sempat berusaha merebut hati mereka dengan meneriakkan “Hidup Persib” dan “Semoga Persib tidak keluar dari empat besar”. Saya sudah mau mati menahan ketawa. Namun lewat dari dua lagu, she gave up. We all gave up. They’re not our crowd. And we’re not their type of entertainers. Period. Hal itu dikonfirmasi ketika mereka tetap joget bahkan saat kami menyanyikan lagu “Kepadamu” yang slow dan mendayu-dayu itu. So, it was obvious, it wasn’t our song they loved, they just needed the drum beats.
Rida memutuskan di atas panggung untuk mengurangi lagu, dan sungguh keputusan yang bijak. Di pertengahan lagu terakhir, massa itu buyar mendadak karena terjadi perkelahian di luar. And of course, the fight was way much more interesting than our music. Seperempat lagu terakhir barulah kami melihat penonton yang duduk di belakang, yang memang datang untuk menonton RSD, dan terpaksa hanya menontoni punggung-punggung selama 6 lagu. Poor them. Poor us.
Heading back to Bandung at 10.30. It was some experience, all right.
I didn’t remember when was the last time I came across that kind of audience, barangkali ini pengalaman pertama kami. Begitu kami naik, penonton yang kebanyakan pria sudah merangsak maju ke panggung. Penonton yang duduk di belakang sepertinya tak akan melihat apa-apa, karena mereka yang di depan ini ogah duduk. Banyak yang bahkan duduk di atas pundak temannya sambil mengacungkan tangan. Mata mereka kebanyakan menggantung setengah, berteriak dan berjoget—bahkan ketika tidak ada musik. Beberapa ada yang menggelar spanduk Persib. Lagu Slank yang dibawakan oleh band sebelum kami membuat mereka semua berteriak orgasmik. I just knew it… we’re in a totally wrong crowd.
Sita masih sempat berusaha merebut hati mereka dengan meneriakkan “Hidup Persib” dan “Semoga Persib tidak keluar dari empat besar”. Saya sudah mau mati menahan ketawa. Namun lewat dari dua lagu, she gave up. We all gave up. They’re not our crowd. And we’re not their type of entertainers. Period. Hal itu dikonfirmasi ketika mereka tetap joget bahkan saat kami menyanyikan lagu “Kepadamu” yang slow dan mendayu-dayu itu. So, it was obvious, it wasn’t our song they loved, they just needed the drum beats.
Rida memutuskan di atas panggung untuk mengurangi lagu, dan sungguh keputusan yang bijak. Di pertengahan lagu terakhir, massa itu buyar mendadak karena terjadi perkelahian di luar. And of course, the fight was way much more interesting than our music. Seperempat lagu terakhir barulah kami melihat penonton yang duduk di belakang, yang memang datang untuk menonton RSD, dan terpaksa hanya menontoni punggung-punggung selama 6 lagu. Poor them. Poor us.
Heading back to Bandung at 10.30. It was some experience, all right.
Tuesday, November 27, 2007
Pausing The Timer (2)
Dua hari berikut, tanggal 26 dan 27 November, kembali menjadi hari produksinya Rectoverso. Kembali saya masuk studio untuk merekam vokal dua lagu terakhir yang merupakan nomor duet. Hari pertama, saya akan berduet dengan adik saya sendiri, Arina “Mocca”. Hari kedua, teman duet saya adalah Ridzky (dulu vokalis band bernama Tiket).
This shall be my first duet recording experience. Sounds fun. Dengan penata vokal, yang juga adalah teman saya dari SD, Irvan Nat, kami rekaman di studio Colloseum—studio yang juga dimiliki oleh sahabat lama saya, Baron (ex gitaris GIGI). You know, this is what I love the most about Rectoverso production. It’s a perfect combination between talents, professionalism, and friendship. I feel like I’m in a web of old familiar friends. Bahkan yang sepertinya baru kenal sekalipun ternyata sesungguhnya tidak terlalu ‘asing’. Contoh kasus: sekalipun saya baru kenal dengan Ridzky, tapi ternyata Ridzky sudah berteman lama dengan Irvan, dengan Baron, bahkan adiknya Ridzky—Rishanda—adalah pemain bass untuk semua lagu di Rectoverso.
Dari mulai eksekutif produser, produser, penata musik, penata vokal, pemain, bahkan kru… semuanya memiliki keterhubungan yang dekat dengan hidup saya dari berbagai era. This is such a blessed project. At least for me, I’m so happy to be in it, and to be with all of them. Can’t wait to share it with all of you.
This shall be my first duet recording experience. Sounds fun. Dengan penata vokal, yang juga adalah teman saya dari SD, Irvan Nat, kami rekaman di studio Colloseum—studio yang juga dimiliki oleh sahabat lama saya, Baron (ex gitaris GIGI). You know, this is what I love the most about Rectoverso production. It’s a perfect combination between talents, professionalism, and friendship. I feel like I’m in a web of old familiar friends. Bahkan yang sepertinya baru kenal sekalipun ternyata sesungguhnya tidak terlalu ‘asing’. Contoh kasus: sekalipun saya baru kenal dengan Ridzky, tapi ternyata Ridzky sudah berteman lama dengan Irvan, dengan Baron, bahkan adiknya Ridzky—Rishanda—adalah pemain bass untuk semua lagu di Rectoverso.
Dari mulai eksekutif produser, produser, penata musik, penata vokal, pemain, bahkan kru… semuanya memiliki keterhubungan yang dekat dengan hidup saya dari berbagai era. This is such a blessed project. At least for me, I’m so happy to be in it, and to be with all of them. Can’t wait to share it with all of you.
Subscribe to:
Posts (Atom)