Tuesday, March 25, 2008

Reintroducing “Perahu Kertas”

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan seputar sinopsis sekaligus mekanisme untuk mendapatkan Perahu Kertas, saya merasa sebuah penjelasan plus ‘contekan’ kecil tentang isi cerita memang dibutuhkan.

Proyek Perahu Kertas, sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya, diinisiasi oleh adanya tawaran dari perusahaan content provider bernama Hypermind yang akan bekerja sama dengan sebuah perusahaan telekomunikasi untuk meluncurkan layanan buku digital yang bisa dibaca lewat layar HP. Seiring dengan proses yang berjalan, akhirnya proyek ini menggandeng XL sebagai pihak telco yang akan meluncurkan layanan ini kepada para pelanggan XL. Dan saya punya kontrak enam bulan eksklusif untuk tidak mencetak buku ini ke pasar umum. Jadi, selama enam bulan, terhitung 3 April 2008 (tanggal peluncuran resmi yang baru), Perahu Kertas hanya akan bisa dibaca lewat layar ponsel, bagi mereka yang pelanggan XL.

Sekitar bulan Oktober-November barulah Perahu Kertas bisa ditemui dalam versi cetak di toko-toko buku. Bagi yang kepingin membaca dan memiliki versi cetak ini, mohon bersabar, ya ☺

Dan, sekarang, the golden question: tentang apa sih Perahu Kertas ini?

Saya menyadari bahwa citra Supernova sangat lekat dengan identitas kepenulisan saya. Bahkan, bagi mereka yang fanatik, Supernova – baik isi, tema, maupun gaya penulisan – dianggap sebagai karakteristik tunggal saya dalam menulis. Kenyataannya, tidak demikian. Sejak dulu, saya menyadari bahwa rentang minat maupun gaya tulisan saya cukup luas. Saya bahkan bercita-cita menjadi penulis segala segmen. Saya ingin menulis untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Saya ingin menulis dari mulai fiksi hingga nonfiksi. Saya menikmati dongeng, puisi, fiksi populer, sastra, dan nonfiksi, sekaligus berkeinginan kuat untuk menciptakannya.

Bagi mereka yang ‘terkunci’ dengan serial Supernova 1 (KPBJ), mungkin agak terkejut membaca warna tulisan dalam Supernova 2 (Akar), apalagi dengan Supernova 3 (Petir) yang cenderung humoris dan ‘asal’. Begitu pula ketika muncul Filosofi Kopi, yang merupakan kumpulan cerita pendek saya yang pertama. Lagi-lagi, Perahu Kertas merupakan perjalanan yang berbeda dibandingkan semua karya saya sebelumnya.

Bisa dibilang, Perahu Kertas adalah fiksi populer saya yang pertama. Saya tidak bisa menggolongkannya ke dalam ‘chicklit’, karena dari karya-karya ‘chicklit’ yang saya baca dan pelajari di pasaran, Perahu Kertas jauh lebih berat ketimbang ‘chicklit’ – baik dari bobot maupun volume. Tapi, Perahu Kertas bukanlah Supernova atau Filosofi Kopi yang dikategorikan sebagai sastra (setidaknya ini pendapat saya, entah para pengamat/kritikus sastra di luar sana).

Bagi mereka yang pernah membaca “Ke Gunung Lagi” karya Katyusha pada tahun ’80-an, pasti mengerti apa yang saya maksud. Jika ada namanya, ke dalam kategori itulah Perahu Kertas bisa muat dengan pas. Sejauh ini saya lebih sreg menyebutnya sebagai fiksi populer. Lalu, apakah novel-novel populer Mira W dan V. Lestari cukup mewakili sebagai perbandingan? Tidak juga. Dari umur pembaca, Perahu Kertas lebih dekat ke remaja-dewasa (SMA ke atas). So, yeah, urusan penggolongan ini memang memusingkan. Makanya sejak dulu saya kurang suka dikotak-kotakkan.

I can never say much about category. All I know is, whatever and however my writings are, they have to be: touching, meaningful, entertaining, stimulating, awakening. Entah itu menulis dongeng balita atau nonfiksi, those are just my golden formulas. I care less about category.

I can only hope you will enjoy Perahu Kertas, as much as I enjoy writing it. I can only hope you will be touched, as I am touched throughout the whole creative process.

Sinopsis akan dimuat dalam posting terpisah. Enjoy!

17 comments:

  1. Atas nama objektivitas, saya harus mengakui betapa sulitnya menjadi produser informal, sahabat dekat penulis sekaligus pembaca pertama Perahu Kertas dan sekaligus berusaha memberikan sudut pandang yang jernih.

    Tertawa terpingkal-pingkal, haru, bercermin ke dalam, sedih, gemas, momen "bohlam menyala" serta ketulusan yang tidak dibuat-buat. Barangkali hanya spektrum rasa diatas berbalut kekaguman mendalam yang bisa saya ungkapkan tentang tulisan ini.

    Sebuah kisah cinta yang sepintas terlihat sederhana dan populer dihadirkan dengan detil-detil dan alur cerita yang khas Dee: mengejutkan, mengharukan, dan menggiring saya untuk tak bisa berhenti membaca. Dan di tengah-tengah momen emosional antara berbagai karakter yang terasa sekali pematangannya, penulis tiba-tiba menghantam sisi filosofis saya tentang cinta, kejujuran, menjadi diri sejati.

    Di akhir cerita, saya mendapatkan diri sendiri, berlinang air mata, entah bersyukur, entah kagum, atau karena tidak menyangka bahwa saya bisa tersentuh begitu mendalam lewat cara pengungkapan yang begitu ringan.

    Selamat ya dear... Very proud and happy for you.

    ReplyDelete
  2. OK deh mbake...
    ikut nunggu novele wis
    perahu kertas?
    ngingetin mainan yang dibikin anak-anak tk yo...

    ReplyDelete
  3. mbak,ngebaca supernova (kpbj),aku serasa ada di ruang kuliahnya mas nur belajar filsafat ilmu,atau di ruang mas sapta,belajar ekonomi..hehe

    ReplyDelete
  4. Dee...membaca tulisan tulisan kamu selalu jiwa ini mendapat pencerahan.

    Banyak hal "berat" yang biasanya tak dapat diungkap dengan kata atau ngga saya mengerti jika ditulis oleh penulis lain, namun bagi kamu seakan hanya masalah kelincahan jari pada tuts keybord computer.

    Banyak hal yang sebelumnya samar, berkabut atau bahkan gelap bagi saya, namun jadi terang benderang ketika membaca tulisan kamu.

    Keep writing sistah...

    ReplyDelete
  5. mbak dee, trus kapan supernova nya dilanjutin? saya masih setia menunggu kelanjutan nya lho sejak saya kelas 3 SMU. btw, lama banget perahu kertas versi cetak diluncurin yah. keep writing deh mbak...

    ReplyDelete
  6. Wah koq cuma buat XL? terpaksa nih nunggu jilidannya. btw mbak aku ngefans banget lho sama supernova, memusingkan tapi inspirasional he...he...he. tapi kalo mbak nulis 'perahu kertas' yang katanya mbak 'chiclit' itu layak ditunggu nih. saya juga baru belajar nulis. buat mbak dee: well done and keep writing!

    ReplyDelete
  7. hoho...

    menulis "akhirnya" bisa dijadikan ladang hidup
    (yg nanya siapa..)
    "im collector what u ever write"
    BTW .. ada beberapa bagian buku (KPBJ - Fil'Kopi ) yang aku 'udah' jadiin e-book lho mba..

    itu melanggar hak cipta yaa..?

    So far.. keep writings

    Cy

    ReplyDelete
  8. Nunggu cekatnya saja...pasti akan aku beli Perahu Kertas, itung-itung nabung dulu dari sekarang nunggu terbit/cetak.


    membaca novel lewat ponsel? duhhhh nggak dehhhhhhhh

    btw, selamat
    Faiza

    ReplyDelete
  9. yuhuuu.........

    aku coba menunggu. tapi saat ini lagunya mbak Dee lagi booming ni, Malaikat Juga Tahu.

    yuhuuu..............

    ReplyDelete
  10. mba dewi, upload covernya dong, biar bisa di add jadi album art, kan lumayan sambil denger lagunya, ada yg bisa diliatin, hehehe.., emang gak ada rencana mau di buat versi hard copy?

    ReplyDelete
  11. Mba, Dewi.
    Saya sempet kaget, kita punya judul yang sama akan tulisan kita. PERAHU KERTAS.
    Tetapi, walaupun saya sudah tulis sejak lama, tetap saja saya kalah cepat keluarin bukunya. heuheu. Tp tidak apa2, sebagai amatir saya juga harus belajar menghadapi hal seperti ini. :)

    Goodluck, Dee.

    ReplyDelete
  12. menemukan novel ini seperti "menetas kembali" ... senang akan punya rasa-rasa yang berkecamuk ... tahu pasti akan bergairah mendalami dan menghabisi ...
    setelah membaca habis ... sedih , karena kehabisan gairah ...
    tapi, sudah bisa mendongeng dan menemukan cara bercerita pada sahabat tentang penyakit yang bersarang di tubuh saya yang selama ini nggak tau harus cerita dengan cara apa ...
    thx dee ...

    ReplyDelete
  13. Perahu Kertas?
    buku yang bagus, plot nya keren... bikin penasaran begitu baca, dan sangat sayang klo untuk membacanya cuman setengah-setengah.... kerennnnnnn! i heart this book

    ReplyDelete
  14. KUGY........
    my new idol!
    dy berani merealisasikan mimpinya di tengah planet yang bernama 'Realitas'
    bener-bener menginspirasi banget!



    Inggit Kresna Maharsih

    ReplyDelete
  15. Perahu Kertassss.....
    I Love it...

    Benar2 dapat kekuatan cintanya, mimpinya, karakternyaaa...
    semuanyaaa...

    aku suka semua tokohnyaa...

    paling nomor satu aku suka EKO!!!!!!!!!
    hahahahahaaaa...
    pasti senang punya sahabat kek diaa..

    trusss..
    KUGY & KEENAN !!!!
    Lovvv K & K forever lah..

    Baru kali ni baca novel sampe ikutan sediiiihhhh...
    ikutan senaaaaaang.....

    jadi pengen nuliiisssss....
    dulu aq juga suka nulis tapi asal2an dan brantakan..
    jadinya malu..

    tapi jadi pengen nulis lagiiii..
    mbak dewi sumpah keren!!!!!!!!

    eh, sebenarnya aku baru baca satu buku ini sih..
    hekhek..

    tapi tetap kerrrreeeeeeeeeeennnnnnn!!!!!!!!

    aq senang bisa comment.
    T_T

    ReplyDelete