Thursday, November 1, 2007

Day 12 – Let’s Count

Saya agak terusik dengan apa yang saya tulis kemarin. Pada saat kebosanan memuncak, kadang-kadang kita lebih mudah melihat bahwa gelas itu setengah kosong ketimbang setengah isi. Lebih mudah berpikir cenderung pesimis/negatif ketimbang optimis/positif.

Hari ini pandangan saya agak lain. Kemarin saya mengatakan: saya “baru” sampai bab 15. Hari ini saya merasa lebih sreg untuk mengatakan saya “sudah” sampai bab 15. Five chapters from now, I’m half way through. It’s not bad at all.

I also counted the amount of words I’ve come up with so far, it’s 24.800 words. One-third, everybody. Pesimis dan optimis hanya masalah persepsi, yang setiap harinya bisa berubah. But that word count is realistic. One-third. Not bad at all.


PS. Tadi malam saya menjadi “korban” Facebook, terjaga sampai setengah lima pagi. Nggak ada hasil pula. Bangun jam 10 dengan kondisi yang nggak asik. My energy is drained out. Tekad saya malam ini hanyalah posting di jurnal, dan langsung meng-klik ikon ‘turn airport off’ di laptop saya. Seriously, limiting ourselves from the cyber world, especially in this particular stage, is a very wise thing to do.

6 comments:

  1. Sama dong Mbak. Sepertinya saya juga sudah half way through ngerjain halfwaythrough, blog pribadi yg tak kunjung selesai di dandanin. :(

    Mungkin harus ngikutin tips nomer 9-nya Mbak Dee nih, must have the bravery to say "Enough!", coz this review and fixing process seems to be endlessness.

    Donkey: "Are we there yet?"
    Shrek: "No!"
    Halfwaythrough: "Are we there yet?"
    Hz: "YES!"
    Hz: (sigh..)

    Thanks for the inspiration Mbak. Cheers.. :)

    ReplyDelete
  2. hahaha.. maen facebook emang asik gak asik, lucu gak lucu, penting gak penting..

    ReplyDelete
  3. optimis? kayaknya gampang-gampang susah teh. puya pemikiran yang pesimis itu, dalam budaya kita, kadang lebih dianggap aman daripada terlalu optimis..

    [saya bisa jamin kalow teteh skarang agak mengernyitkan muka, soalnya kita punya nama beken yg sama. dee. diah sbenernya teh, cuma diah tuh nama yang susah buat dipenggal dibelakang, gak merdu aja kedengerannya. kalow dewi, macam nama teteh, masih enak dipenggal "wi" tapi diah kalow dipenggal dibelakang jadinya "yah", kok gak merdu aja. itu opini temen-temen saya teh. walhasil, mereka lebih memilih buat panggil saya "di" aja. biar lebih metropolis, saya tulis pake ejaan beken "dee". lahirlah satu lagi dee di dunia ini. bgitu ceritanya,, ^_^]

    ReplyDelete
  4. Untung langsung "dikoreksi" dengan posting ini. Saya udah sempat berpikir yang aneh2 tentang Dee.., hehe J/K.

    Anyway, kalo kondisi fisik dan mental lagi gak prima memang sepertinya sangat mudah menjadi pesimis/negatif. Tapi seandainya Dee gak jadi "korban" Facebook, mungkin gak akan bisa melihat gelas yang setengah isi hari ini. Hasilnya yahh, dapat semangat baru lagi buat hari2 ke depan.

    PS. Pantes aja email saya dicuekin, hehe...

    ReplyDelete
  5. Heheh, that's a good one, Hz.

    Salam kenal buat another Dee. Wanna hear my story? Saya dulu punya ransel waktu kuliah, dengan inisial D gede banget. Sejak itu mulai ada yang iseng manggil 'Dee'. Keterusan sampai sekarang. Saya pakai pertama kali waktu nulis Supernova, berhubung saya selalu merasa nama Dewi pasaran nian. Sekarang rasanya udah nggak masalah lagi, tapi udah kagok basah pake nama pena Dee.

    Untuk Rampa Maega, mohon maaf sebesar2nya yaaa... ntar kutelusuri lagi inbox-ku. Thank you Ilma and Intan!

    ReplyDelete